Di sana, dia kemudian belajar tentang komputer dan internet. Di situlah, dia menemukan ruang obrolan.

Tammy mencari sesuatu untuk mengisi kekosongan spiritual di saat dia juga membutuhkan arahan. Karena itu, dia menghabiskan waktu di ruang obrolan Kristen dan berharap menemukan bimbingan.

Tammy kemudian menemukan ruang pembicaraan menarik dengan nama ‘Christian, Muslim Chat’. Orang kedua yang dia ajak bicara di chat room itu adalah seorang Muslim. Meskipun Tammy bersikap sombong dan marah, namun Muslim tersebut tetap mendengarkan.

Percakapan itulah yang kemudian membuka jalan keluar dari kesulitannya. Setelah mendengarkan kesulitan yang dia hadapi, orang Muslim tersebut menawarkan Tammy bantuan.

Meski tidak saling mengenal, dan tahu Tammy tidak dapat segera mengembalikannya, namun orang Muslim tersebut mengiriminya uang untuk kembali ke keluarganya. Hati Tammy merasa tersentuh. Bagaimanapun, dia telah mengeluarkan uneg-uneg jahat tentang Islam. Namun orang Muslim pulalah yang mengulurkan tangan di saat dia membutuhkan.

Ketika kembali ke New Hampshire, Tammy merasa lebih lega dan hatinya berubah. Dia juga mulai menonton video tentang Islam, khususnya cerita-cerita tentang mualaf. Dia kemudian menyadari kekeliruannya tentang Islam dan Muslim.

Sebulan kemudian, setelah berbicara dengan teman barunya dan menjelaskan kepadanya bahwa dia sedang belajar tentang Islam, temannya mengundangnya untuk datang mengunjungi Mesir, tempat asalnya. Tammy sempat ragu karena kondisi Mesir di tengah revolusi dan ketidakpastiannya tentang Timur Tengah secara keseluruhan. Namun, akhirnya dia sepakat melangkah ke negeri Mesir.

Setibanya di Negeri Piramida itu, Tammy merasa sangat kagum. Di waktu pagi ketika dia tiba, ia mendengar kumandang adzan untuk pertama kalinya. Tammy merasa terharu dan kemudian menangis.