Telah disiarkan beberapa kali tentang aksi unjuk rasa mahasiswa STKIP BBM Meulaboh di kampus tersebut pada 18 Mei 2016 berujung ancaman dikeluarkan dari pihak kampus.
Kita mencoba memahami mental para remaja yang cenderung kritis. Ini sebuah sikap baik yang mesti dipelihara dan digunakan dengan bijak sana.
Ada hal yang harus dimengerti oleh setiap orang, bahwa kebebasan kita itu berada di rentang hal tersebut menjaga kebebasan orang lain. Kebebasan berpendapat kita sejauh itu memperhatikan kebebasan berpendapat orang lain. Itulah dinamika, timbal balik kehidupan.
Kita sebaiknya memahami bahwa segala sesuatu itu ada akibatnya sehingga setiap hal harus dipertimbangkan sebaik mungkin sebelum melakukannya.
Sebagai contoh, ada sekumpulan mahasiswa berunjuk rasa, kemudian entah bagaimana para pejaga keamanan tanpa sengaja menyentuh mereka agak keras bahkan ada yang terluka ringan. Kalau hal semacam itu terjadi maka jangan dipermasalahkan.
Itulah risiko, dengan pertimbangan para mahasiswa tersebut yang jadi pihak keamanan dan pendemo mungkin akan melakukan hal serupa. Mungkin. Initinya, kalau jadi pejuang, jangan manja. Hadapi risiko itu, atau mundur! Jadilah anak manis saja.
Kalau tidak siap dengan risiko demikian, jangan pernah turun ke jalan-jalan untuk berunjuk rasa. Duduk manis saja di rumah seperti orang-orang. Kita tidak hidup di negeri yang pemerintahnya dipimpin oleh para sufi, tapi ini negeri setengah sipil setengah militan. Lagi pula Aceh baru selesai perang.
Tentang kasus itu, kasus ancaman dikeluarkan dari kampus, sebenarnya mudah saja. Jangan unjuk rasa lagi, pasti batal dikeluarkan, bukankah baru ancaman? Ancaman itu tidak berarti apa-apa. Tinggal datang saaja ke pengurus kampus dan meminta maaf. Selesai masalahnya.
Ini bukan artinya saya mendukung pengaburan informasi dari kampus atau apa saja. Yang saya sampaikan ini adalah salah satu pilihan terbaik untuk sikap seorang pejuang. Berani ambil risiko dan tidak menyalahkan pihak lain saat menderita.
Sebenarnya, seperti para mahasiswa itu, kita ingin sebuah organisasi seperti kampus punya sikap bijaksana, tidak sembarangan main ancam disebabkan itu kampus berurusan dengan banyak orang, baik swasta atau negeri, uang negara ada di sana. Bukankah kampus lembaga pendidikan, sungguh, ancam mengancam itu sikap yang sama sekali tidak mendidik.
Begitu juga, ini bukan artinya kita mendukung kekasaran petugas keamanan, namun yang perlu diperhatikan ialah, bahwa segala sesuatu itu ada akibatnya. Kalau kita inginkan hasilnya, maka kita juga siap dengan risikonya.
Tentang peri kemanusiaan, kita pun ingin petugas keamanan itu menjalankan tugasnya melindungi masyarakat walaupun kadang terpengaruhi (terprovokasi) oleh sikap kurang halus dari pemrotes.
Yang anda hadapi itu masyarakat sipil bukan tentara musuh. Sipil itu tidak dilatih secara militer atau latihan khusus polisi seperti anda. Jangankan ditendang, disenggol saja mereka menganggap itu pukulan.
Kalau di dunia keamanan hal yang begitu atau bahkan puluhan kali lebih keras masih dianggap biasa tapi di dunia sipil itu sudah dianggap masalah. Ini harus dilatih juga di lembaga kemanan sipil dan militer, membedakan antara musuh dalam perang dengan melindungi rakyat.[]
Thayeb Loh Angen, aktivis.




