BANDA ACEH – Perpustakaan Aceh terus berbenah setelah Gempa dan Tsunami Aceh 2004. Pada tahun 2023 ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh telah menempati gedung baru yang dibangun di lokasi lama dengan fasilitas kian menarik meski masih tahap finishing.

Saat ini puluhan ribu koleksi literasi tentang Aceh yang dulu dimiliki telah hilang dan tak lagi dapat diakses secara fisik. Hal ini disampaikan saat pertemuan serah terima buku tentang Aceh dari penulis Malaysia, Prof. Siti Zainon Ismail, di ruang rapat Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Dr. Edi Yandra, S.STP., MSP, Ahad, 8 Oktober 2023.

Prof. Siti Zainon Ismail adalah Sastrawan Malaysia. Bukunya tentang khazanah kebudayaan Aceh, menurutnya, merupakan hasil kajian yang cukup representatif terkait pengalaman kunjungan dan penelitian dilakukannya selama ini di Aceh.

Siti Zainon menyebut secara khas bahwa ada janji yang tuntas melalui terbit dan diserahkannya buku tentang Aceh itu mengenang dialog bersama alm. Ali Hasyimi (Gubernur Aceh). Lewat Perpustakaan Aceh, Siti Zainon juga menyampaikan berbagai hal terkait literasi Aceh yang mesti terus terperhatikan demi generasi masa depan.

Diketahuinya informasi tentang puluhan ribu buku tentang Aceh yang rusak dan hilang akibat Tsunami 2004 awalnya saat paparan staf Perpustakaan Aceh di ruang rapat. Lebih setengah koleksi yang dimiliki tak lagi dapat diakses publik, sehingga bagi perpustakaan tersebut, diperlukan strategi demi menambah dan bila dimungkinkan mendapat kembali sejumlah judul dan tema Aceh yang pernah ada.

Drs. M. Yusuf, Koordinator Pustakawan di Perpustakaan Aceh, salah satu peserta pertemuan tersebut, juga mengkonfirmasi beberapa entri judul mencapai ratusan ribu tentang literasi tematik Aceh sebagian kecil dimungkinkan ada juga di Perpustakaan Ali Hasyimi, meskipun koleksi Perpustakaan Aceh jauh lebih lengkap, sehingga kekurangan tersebut dapat saja dilakukan upaya tertentu dalam menyiasati kurangnya literasi Aceh.

Strategi dan cara mengatasi langkanya koleksi literasi Aceh, menurut Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Edy Yandra bisa lewat mendapatkan lagi entri judul/data buku yang tak lagi dikoleksi tersebut untuk dicari dan kembali dikoleksi, dan menerima buku-buku dari penulis tentang Aceh untuk digunakan sebagai koleksi bersama. Edi Yandra juga mengusulkan ada stan baca khusus para tokoh yang menghibahkan koleksi mereka bagi Perpustakaan Aceh.

Edi Yandra kepada Siti Zainon juga mengutarakan strategi terkait bagaimana cara untuk menumbuhkan minat baca, sehingga Perpustakaan Aceh kini banyak dikunjungi warga terutama mahasiswa setelah pola pelayanan diubah seperti mall baca.

“Kita mencoba mengubah cara pengelolaan Perpustakaan Aceh ini, selain peningkatan fasilitas yang saat ini sedang dirampungkan, ada fasilitas theater mini, ruang inkubator bagi komunitas penulis, kelebihan yang dimaksimalkan dan juga kekurangan dari sisi fasilitas fisik terus dilengkapi. Itu memerlukan dukungan semua pihak dan peningkatan pengunjung juga prioritas kita,” ungkap Edi Yandra.

Pertemuan terbatas dalam serah terima buku dari Siti Zainon juga diskursus terkait problematika literasi Aceh ini turut dihadiri Zulkifli, S.Pd., M.Pd. (Sekretaris Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh), Zulfadli, S.E., M.M. (Kepala Bidang Layanan Perpustakaan), dan Khairuddin, S.Sos. (Sub. Koordinator Pengolahan & Pengembangan Bahan Pustaka).[](ril)