PUASA pada hakikatnya adalah menahan diri dari segala sesuatu yang dilarang masuk ke dalam tubuh. Ada banyak jenis puasa yang telah berkembang sejak dahulu kala, baik karena faktor budaya atau tuntunan agama.
Begitu juga dalam budaya kesehatan, puasa diyakini memiliki manfaat penyembuhan bagi yang menjalankan terapi. Lalu apa sajakah persamaan dan perbedaan antara puasa medis dengan puasa yang sesuai tuntunan agama Islam?
Persamaan puasa medis dan puasa Islam adalah:
1. Kedua jenis puasa itu mengistirahatkan tubuh dari tugas pencernaan, baik penghancuran makanan maupun penyaluran dan penyerapan bahan makanan oleh seluruh bagian tubuh. Ketika berpuasa, tubuh lebih banyak mempergunakan cadangan makanan serta mengeluarkan toksin atau zat-zat kimiawi yang berbahaya bagi tubuh.
2. Kedua jenis puasa itu menahan manusia dari konsumsi makanan atau minuman untuk jangka waktu tertentu.
Perbedaan antara puasa medis dan puasa Islam yaitu:
1. Puasa Islam merupakan ibadah yang mudah dan dapat dijalankan oleh semua mukallaf. Sementara, puasa medis lebih berat dan lebih sulit dilaksanakan kecuali bagi orang yang benar-benar harus melakukannya karena alasan medis. Tidak setiap orang bisa menjalankannya.
2. Dalam puasa Islam, kaum muslimin menahan diri dari makan, minum, hubungan seks, dan aktivitas lain yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Sementara, pada puasa medis, orang yang menjalankannya hanya menahan diri dari makan selama jangka waktu yang telah ditentukan sesuai dengan kondisi fisik orang yang bersangkutan atau sesuai dengan ketetapan dokter, dan mereka yang berpuasa medis masih dibolehkan untuk minum dan melakukan hubungan seks.
3. Dalam puasa medis, tubuh tidak bergantung pada asam amino dan asam-asam pokok lainnya yang tidak dihasilkan oleh tubuh, tetapi dihasilkan dari penguraian makanan. Keadaan ini memicu kerusakan sel dan tubuh tidak punya kemampuan untuk memproduksi sel-sel baru. Sementara dalam puasa Islam terjadi keseimbangan antara proses penghancuran dan pembentukan. Tubuh sepenuhnya dapat bergantung pada asam amino dan lemak-lemak pokok untuk menjalankan fungsinya.
4. Selain itu, karena dalam puasa Islam tidak dibolehkan minum, tubuh terdorong untuk memproduksi hormone antidiuretie, sehingga air yang dikeluarkan tubuh saat buang air kecil tidak terlalu banyak. Pada gilirannya, keadaan itu juga menahan hilangnya garam-garam mineral penting seperti sodium.
5. Kemudian, rasa haus juga memicu bertambahnya hormone angiotensin II dan hormone vasopressin yang dapat menurunkan tekanan darah. Kedua hormone itu bertambah dari perubahan glikomen dalam liver yang akan memberikan energi pada tubuh sehingga tetap kuat ketika berpuasa. Juga telah ditetapkan bahwa hormone antidiuretie berperan penting untuk meningkatkan kekuatan memori serta meningkatkan fungsi sekresi.
Jadi bagi umat muslim, puasa yang dijalankan selain merupakan tuntunan syariat Islam, tetapi juga memiliki manfaat yang banyak terhadap kesehatan dan mampu menjaga kesimbangan tubuh. Sedangkan puasa medis hanya digunakan untuk tujuan tertentu.
Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan. []Sumber:inilah.com





