SUBULUSSALAM – Para petani di Bumi Sada Kata mengeluh lantaran harga sawit turun sejak sepekan terakhir dari Rp1.500 menjadi Rp1.280 perkilogram atau berkurang sekitar Rp220. Tidak diketahui penyebab turunnya harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.
Bagi petani jangankan turun sampai Rp220 perkilogram, turun Rp30 perkilogram saja kalau bisa jangan, karena yang kami kumpulkan hitungan rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan belanja dapur, kata Rahmin, petani sawit Kampung Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam kepada portalsatu.com, Selasa, 18 Oktober 2016.
Ia mengatakan dua pekan lalu harga sawit di tingkat petani Rp1.500 perkilogram. Saat itu ia panen sebanyak 800 kilogram dari luas kebunnya hampir dua hektare namun belum semuanya berbuah. Saat panen kedua harga sawit sudah jauh sekali turun, Senin kemarin saya jual Rp1.280 perkilogram, jumlah panen juga berkurang hanya 500 kilogram, kata pria berkaca mata ini.
Keluhan sama disampaikan Fahrizal Afdal terkait anjloknya harga sawit. Ia berharap harga TBS bisa segera membaik sehingga perekonomian petani tidak melarat. Kemarin ketika harga sawit naik Rp1.500 di tingkat petani saya pikir bakalan naik lagi bisa menembus Rp1.700 perkilogram. Petani sangat senang sekali waktu itu. Namun kenyataan di lapangan harga kembali turun, ungkapnya.
Menurutnya, dengan kondisi harga barang kebutuhan pokok yang masih mahal, idealnya harga TBS di tingkat petani minimal Rp1.500 perkilogram. Hasil panen selain belanja kebutuhan sehari-hari, sisanya bisa digunakan untuk perawatan kebun seperti beli pupuk dan biaya kebersihan.[]
Laporan Sudirman


