BLANGKEJEREN – Kopi Arabika atau yang kerap disebut ‘emas merah’ dari Negeri Seribu Bukit terus menjadi incaran investor dari luar daerah. Kualitas yang bagus dan rasanya nikmat menjadikan kopi Arabika asal Gayo Lues terus diburu pencinta dan penikmat kopi.

Bayangkan saja, hampir setiap pekan harga kopi Arabika di Kabupaten Gayo Lues terus melonjak naik. Selama tahun 2025, harga kopi bertahap naik mulai dari Rp 52 ribu hingga Rp 68 ribu per bambu.

Melihat gerak-gerik lonjakan harga kopi Gayo tersebut, Bupati Gayo Lues Suhaidi S.Pd., M.Si, bersama Wakil Bupati Gayo Lues H. Maliki sangat yakin jika kopi Gayo bisa sebagai pendongkrak ekonomi masyarakat.

Bupati Gayo Lues Suhaidi, S.Pd, M.Si., saat meninjau perkebunan kopi di wilayah Blangkejeren. Foto: Istimewa

Lewat programnya yang diberi nama Gerakan Restorasi Ekonomi Kerakyatan (GERETEK), Pemerintah Daerah di bawah tangan dingin Bupati Suhaidi dan Wakil Bupati H. Maliki akan memberikan bantuan bibit dan pupuk untuk masyarakat yang mau menanam kopi.

“Target kita kebun kopi di Gayo Lues selama lima tahun ke depan bisa bertambah 10.000 hektare dari berbagai sumber biaya, baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, APBD, CSR pihak swasta, maupun sumber lainnya,” kata Bupati Gayo Lues, Suhaidi, S.Pd, M.Si., Selasa, 11 November 2025.

Bupati Gayo Lues Suhaidi, S.Pd, M.Si., dan Wakil Bupati Gayo Lues H. Maliki. Foto: dok Humas

Bupati Gayo Lues Targetkan Satu Hektare Kopi Per KK

Program GERETEK yang mengembankan kopi Gayo bukan saja terpaku kepada masyarakat, Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues telah menginstruksikan agar Aparatur Sipil Negara (ASN) juga ikut menanam kopi Gayo untuk mendongkrak ekonomi keluarga.

“Selama ini masih banyak lahan tidur di Kabupaten Gayo Lues, dengan adanya program GERETEK ini, masyarakat dan ASN kita imbau agar menanam kopi. Hasil panen kopi Gayo Lues masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan tingginya permintaan pasar ekspor,” kata Bupati.

Jika masyarakat Gayo Lues mau menanam kopi Gayo, Bupati dan Wakil Bupati sangat yakin dua tahun ke depan Kabupaten Gayo Lues akan keluar dari daerah termiskin di Aceh. Dan penghasilan setiap kepala keluarga bakalan naik seiring lonjakan harga kopi Gayo di pasar dunia.

Begini Hitungan Bupati Soal Hasil Kopi Gayo

Bupati Gayo Lues Suhaidi, S.Pd., M.Si., sangat yakin jika masyarakat akan mendukung program GERETEK lewat menanam kopi Gayo, di samping pengaruh harga yang semakin tinggi, banyak masyarakat ikut tertarik menanam kopi karena sudah melihat petani kopi mendapatkan hasil yang melimpah setiap tahunnya.

“Jika masyarakat menanam kopi satu hektare dengan jumlah 1.500 batang saja, dan buah per batang satu bambu gabah saja per tahun dengan harga Rp 68 ribu, maka penghasilan petani kopi selama setahun sudah mencapai Rp 102.000.000. Jika dibagi 12 bulan, maka penghasilan petani kopi per bulan Rp 8.500.000,” ujarnya.

Untuk itu, Bupati Gayo Lues mengajak masyarakat Gayo Lues segera menanam kopi Gayo agar bisa menyekolahkan anak ke tingkat yang lebih tinggi, dan terhindar dari kemiskinan.

“Sudah saatnya masyarakat bangkit, jangan sia-siakan waktu, karena kesempatan tidak akan datang dua kali,” ujarnya.

Sementara untuk bibit dan pupuk kopi, masyarakat tidak perlu khawatir karena akan dibantu Pemerintah Daerah melalui kelompok tani secara bertahap. Pada tahap pertama, Dinas Pertanian bidang Perkebunan sudah menyalurkan 100.000 bibit kepada masyarakat Gayo Lues.[]