LHOKSEUMAWE- Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Lhokseumawe, Dicky Risky menilai dana Otsus yang selama ini diterima Aceh Utara terkesan “terbuang sia-sia”. Pasalnya, menurut dia, uang itu dikelola oleh orang-orang yang tidak mempunyai kemampuan di bidangnya.
Dicky menyebutkan hal tersebut menyikapi berita dilansir portalsatu.com terkait dana Otsus dan Migas Aceh Utara tahun 2017 dicincang melalui usulan program dan kegiatanyang menurut anggota DPRK terkesan bagi-bagi kue untuk lebih 20 SKPK.
Minimnya para pejabat yang memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing di lingkungan pemerintahan membuat Aceh Utara kurang gagasan baru dalam membuat kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, kata Dicky menjawab portalsatu.com via pesan BlackBerry Messenger, Senin, 4 April 2016.
Padahal, kata Dicky, Aceh Utara memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Selain itu juga berdiri kampus- kampus yang di dalamnya terdapat akademisi-akademisi handal, namun tidak diberdayakan.
Jika pihak tersebut dimanfaatkan pastinya mereka memiliki gagasan baru untuk membangun Aceh Utara yang lebih baik lagi, kata Dicky.
Kata Dicky, dana Otsus harus tepat sasaran dan bisa menciptakan program spektakuler yang diimpikan masyarakat selama ini, bukan program asal jadi.
Seharusnya jika uang tersebut 'dibagi-bagi', peningkatan dalam segala bidang dapat terwujud, namun jika disalahgunakan efeknya seperti pemberitaan akhir-akhir ini, banyak pihak yang menilai negatif, ujarnya.
Dicky berharap Pemerintah Aceh Utara membuka diri untuk berkomunikasi dengan akademisi, sebab mereka mengetahui potensi dimiliki Aceh Utara, sehingga dapat memunculkan ide-ide baru yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Hal ini, kata dia, sudah dipraktekkan di beberapa kabupaten/kota di Indonesia dan terbukti dapat memajukan daerah tersebut.[](tyb)



