BLANGKEJEREN – PT Kencana Hijau Bina Lestari yang beroprasi di Desa Pinang Rugub, Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues mampu memproduksi sekitar 6 ribu ton getah pinus selama tahun 2021. Jumlah tersebut hanya setengah dari izin yang dimiliki sebesar 13 ribu ton per tahun.
Abastian, Manajer PT Kencana Hijau Lestari, Kamis, 27 Januari 2022, mengatakan berdasarkan peta izin kerja sama pengelolaan getah pinus dengan Dinas LHK Aceh sebesar 43 ribu hektare hutan yang berada di kawasan hutan produksi maupun APL (Area Penggunaan Lain). Namun berdasarkan survei potensi tegakan pinus yang bisa dikelola hanya sekitar 12 ribu hektare, sisanya lahan kosong dan perkebunan masyarakat.
Saat ini, kata Abastian, harga patokan/dasar getah pinus yang ditetapkan Provinsi Aceh Rp8 ribu per kg, dengan setoran Pendapatan Asli Daerah Rp 1.200 per kg. Pembagian PAD untuk Provinsi 7,5 persen dan Kabupaten Gayo Lues 7,5 persen khusus untuk lahan APL. Tetapi jika PT Kencana Hijau membeli getah pinus dari perusahaan yang memiliki izin, harganya mencapai Rp13 ribu per kg.
“Setiap satu kilo getah pinus yang berasal dari lokasi APL, PAD untuk Provinsi Aceh Rp600, dan untuk Gayo Lues Rp600. Selain itu kami juga harus membayar PPn dan PPh lagi,” jelasnya.
Kebanyakan penderes getah pinus di Gayo Lues, kata Abastian didatangkan dari luar daerah dan ada juga masyarakat setempat yang sudah merasakan nilai ekonomis dari pengelolaan getah pinus.
“Selama pandemi Covid-19 jumlah penderes kami jauh berkurang. Dalam kondisi normal satu penderes bisa menghasilkan getah antara 400 kg hingga satu ton lebih dan rata-rata pendapatan penderes di atas Rp6 juta per bulan,” katanya.
Jika ada warga Gayo Lues yang memiliki hutan pinus tetapi belum dikelola getahnya, Abastian meminta kepada warga agar bekerja sama dengan PT Kencana, semua peralatan akan diberikan termasuk tata cara penderesannya.
“Saat ini pasokan getah pinus untuk PT Kencana masih kurang, jadi kami bekerja sama dengan tujuh perusahaan yang ada di Gayo Lues. Di samping itu kami juga membeli getah pinus dari Aceh Tengah untuk diolah di sini, kemudian setelah getah pinus diolah menjadi terpentine dan gondorukem, baru kita bawa keluar,” tambahnya.[]




