LHOKSUKON – PT Bank Aceh Syariah Cabang Lhokseumawe bekerja sama dengan Fakutas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh mengadakan pelatihan pengembangan usaha kerupuk tempe UKM Bungong Nanggroe, di Gampong Matang Meunye, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara, Selasa, 15 Februari 2022. Pelatihan diikuti 30 perempuan tergabung dalam Usaha Kecil Menengah Bungong Nanggroe berlangsung di lokasi produksi kerupuk tempe UKM tersebut.
Pelatihan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas produksi kerupuk tempe dan manajemen pengembangan usaha yang dijalankan kaum perempuan itu. Produk UKM itu dinilai memiliki pangsa pasar cukup baik. Bahkan, ketidakmampuan kelompok tersebut memenuhi permintaan pasar menjadi persoalan serius.
Selama ini pemasaran kerupuk tempe dilakukan secara tradisional, hanya dimasukkan ke dalam karung, lalu dijual ke toko dan warung secara kiloan, kata Mansuriyah, Ketua UKM Bungong Nanggroe.
Pimpinan PT Bank Aceh Syariah (BAS) Cabang Lhokseumawe, Taufik Saleh, mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi dari tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat. PT BAS memberikan perhatian terhadap pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan harapan produk-produknya menjadi ikon daerah setempat.
Hal ini juga menjadi harapan para pemegang saham, salah satunya Pemerintah Aceh Utara, yang berharap akan lahir produk-produk berkualitas dan diminati pasar. “Utamanya bagi para pelancong atau wisatawan yang datang ke Aceh Utara, di mana setiap kembali ke daerah asalnya akan membawa produk-produk makanan sebagai oleh-oleh untuk kerabat dan handai tolan mereka,” kata Taufik Saleh saat membuka pelatihan tersebut yang dihadiri geuchik dan perangkat Gampong Matang Meunye.
Taufik Saleh berharap pelatihan itu juga dapat membantu meningkatkan pendapatan bagi perempuan yang memproduksi kerupuk tempe di UKM Bungong Nanggroe. Diharapkan ke depan Matang Meunye menjadi sentra penghasil kerupuk tempe di Aceh Utara.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh, Dr. Mohd. Heikal, mengatakan program ini dilakukan secara berkesinambungan. Tidak hanya melatih peserta untuk meningkatkan kapasitas produksinya, namun aspek pemasarannya juga menjadi bagian penting setelah pelatihan ini.
“Hal yang berkaitan dengan kemasan, proses produksi yang higienis serta pemasaran melalui platform digital akan menjadi perhatian pihak kami, sehingga kerupuk tempe produksi UKM Bungong Nanggroe ini bisa memenuhi kebutuhan pasar baik lokal maupun nasional,” ujar Heikal.
Heikal menyebut pihaknya akan secara berkelanjutan melakukan pendampingan dan terus memberikan pelayanan baik konsultasi maupun peningkatan kapasitas lainnya bagi UKM Bungong Nanggroe dan UMKM lainnya.
Menurut Heikal, PT BAS Lhokseumawe akan memfasilitas beberapa peralatan yang dibutuhkan, termasuk membantu tersedianya rumah jemur dengan memanfaatkan sinar matahari (solar dried dome). Fasilitas tersebut nantinya tidak hanya bisa membantu proses jemur yang selama ini terkendala bila cuaca hujan, tapi juga karena fungsinya menyimpan panas sehingga masa jemur kerupuk tempe yang sudah dipotong-potong sebelum dikemas bisa lebih pendek dibandingkan secara tradisional.
“Program seperti ini penting dilakukan dalam melahirkan UMKM yang andal melalui kolaborasi antara Pemerintah Aceh Utara, perbankan, dan perguruan tinggi, sehingga sinergisitas ini dapat diikuti oleh para pemangku kepentingan lainnya,” kata Heikal.[](ril)





