LHOKSUKON – Jemaah memadati Masjid Agung Baiturahim Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, untuk melaksanakan salat Iduladha 1443 Hijriah, Ahad, 10 Juli 2022.
Salat Iduladha diimami Imam Besar Masjid Baiturahim Lhoksukon, Tgk. Jamaluddin Ismail akrab disapa Tgk. Walidi, dan bertindak sebagai khatib, Ustaz H. Abdurrahman Yusuf, S.Pd.I., M.Pd., dari Lhokseumawe. Jemaah berdatangan ke masjid sejak pukul 06.30 WIB, dan salat dilaksanakan pukul 07.30 WIB.
Dalam khutbahnya, Ustaz Abdurrahman Yusuf, menyampaikan tentang membangun suatu bangsa dimulai dari membangun sebuah keluarga, yang mencerminkan keteladanan Nabiyullah Ibrahim As dan keluarganya.
“Hari raya Iduladha yang sangat identik dengan dua ibadah utama, yakni haji dan kurban. Dalam tuntunan agama Islam, kedua ibadah ini memang hanya bisa dilakukan pada bulan Zulhijah. Maka Iduladha juga disebut dengan hari raya haji atau hari raya kurban, dimana perayaan Iduladha ini tidak bisa dipisahkan dari kisah perjalanan kehidupan Nabi lbrahim As beserta keluarganya. Karena ada begitu banyak peristiwa yang mewarnai kehidupannya diabadikan dalam ritual ibadah haji dan kurban,” kata Ustaz Abdurrahman.
Ustaz Abdurrahman mengajak para jemaah menapak tilas untuk menelusuri kembali kisah perjalanan perjuangan hidup yang dialami Nabi Ibrahim As, kakek moyangnya Baginda Rasulullah Muhammad SAW, yang berkaitan erat dengan ibadah haji dan kurban.
“Dengan mengenang kembali perjuangan Nabiyullah lbrahim As, diharapkan kita mampu mengambil ibrah, hikmah, dan nilai-nilai spiritual sebagai modal dalam menjalani kehidupan hari ini. Memahami sejarah ini, semoga kita juga bisa termotivasi untuk bisa melaksanakan ibadah haji dan kurban, serta berkomitmen untuk meneladani kehidupan beliau dan keluarganya,” ujarnya.
“Kita awali kisah perjalanan dan perjuangan keluarga Nabi lbrahim dan istrinya yang bernama Siti Hajar saat Allah SWT menganugerahi mereka seorang putra yang sudah diidam-idamkan sejak lama. Kelahiran putra yang diberi nama Ismail ini diiringi dengan perintah dan cobaan dari Allah SWT untuk menempatkan Hajar dan Ismail di sebuah lembah yang tandus dan gersang. Kisah ini diabadikan dalam Alquran surah lbrahim Ayat 37,” ujar Ustaz Abdurrahman.
Ustaz Abdurrahman mengisahkan, saat tinggal di lembah itu, suatu hari Siti Hajar kehabisan air minum hingga tidak bisa menyusui Ismail. la pun mencari air ke sana kemari sambil berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah 7 kali. Peristiwa inilah yang kemudian diabadikan menjadi salah satu rukun haji, yakni Sa’i atau berlari-lari kecil antara kedua bukit tersebut. Di tengah kesusahan itu, Allah menurunkan pertolongan melalui mata air yang muncul dari tanah, tepat di bawah kaki Ismail, yang saat itu sedang menangis kehausan. Di tempat inilah keluar air penuh berkah yang sampai saat ini bisa terus dinikmati oleh umat Islam seluruh dunia bernama air zamzam.
“Cobaan keluarga Nabi Ibrahim As tidak berhenti sampai di situ. Nabi berjuluk “Khalilullah” (kekasih Allah) ini mendapatkan perintah dari Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Perintah ini juga menjadi sebuah ujian keimanan dan ketakwaan Nabi Ibrahim kepada Allah. Tentunya kisah Nabi Ibrahim cukup banyak hikmahnya dan teladan yang perlu kita ambil dalam menjalani kehidupan,” kata Ustaz Abdurrahman.
“Begitu juga dalam memimpin suatu bangsa atau negara dengan baik, maka dimulai dari membangun sebuah keluarga yang baik pula. Karena semua ini menjadi pedoman bagi kita dari kisah Nabi Ibrahim As,” tutur Ustaz Abdurrahman.[]





