SEJARAH suatu bangsa, dari masa ke masa, terus ditulis. Namun, demi kepentingan kekuasaan, kadang ada pihak yang sengaja berupaya menghilangkan bagian tertentu dari sejarah itu.
The Secret History of the Mongols, sebuah dokumen sejarah Kekaisaran Mongol yang merekam ucapan-ucapan Genghis Khan ketika mendirikan bangsa Mongol, meletakkan dasar-dasar hukum, mengorganisasi pemerintahan dan mendelegasikan kekuasaan, juga ternoda oleh upaya menghilangkan suatu bagian di dalamnya. Bagian yang memuat kata-kata Genghis Khan tentang pencapaian dan imbalan untuk anak-anak perempuannya telah disensor. Hanya disisakan satu kalimat, Mari kita berikan penghargaan kepada anak perempuan kita, yang memancing keingintahuan. Apa yang hilang itu?
Jack Weatherford, penulis buku laris Genghis Khan and the Making of the Modern World, menyusun narasi panjang berdasarkan penelitian mendalam untuk mendapatkan bagian sejarah yang hilang itu. Sekaligus mengungkap kisah Genghis Khan membangun Kekaisaran Mongol dengan banyak bantuan dari putri-putrinya. Buku Ratu Mongol ini disusun dari banyak sumber (laporan diplomasi Pemerintah China, surat kepada Vatikan, sejarah Muslim, sejarah bangsawan Armenia). Juga dari catatan Christopher Columbus yang membawa surat ratu dan raja Spanyol, Isabella dan Ferdinand, untuk Khan Mongol (1492), yang menunjukkan kehebatan peran putri-putri Genghis Khan dalam mendukung pendirian Kekaisaran Mongol. Jika putri-putri Genghis Khan tidak ada, Kekaisaran Mongol tidak akan pernah ada, itulah kesimpulan Jack Weatherford.
Tetapi tak mudah menelusuri jejak putri-putri Genghis Khan. Berapa jumlah mereka dan siapa nama-nama mereka tidak dapat dipastikan. Identifikasi dari nama-nama menantu laki-laki pun (ada delapan orang) tidak mungkin sebab terjadi pernikahan ganda. Nama atau sebutan putri-putri Genghis Khan juga ditemukan dalam ejaan yang menakjubkan, tergantung pada bagaimana terdengar di telinga orang-orang China, Persia, Armenia, Rusia, Turk, atau Italia yang menuliskan kisahnya. Lebih dari itu, jumlah putri Genghis Khan, di dalam tulisan para sejarawan, dari abad ke-13 hingga abad ke-17, terus berkurang hingga tinggal satu nama, dan bahkan pernah lenyap sama sekali dalam sejarah berikutnya.
Perempuan dan kekuasaan
Kisah dimulai dari masa muda Temujin (nama kecil Genghis Khan) yang penuh ambisi ingin berkuasa dan menjadi pemimpin. Membeberkan strategi Genghis Khan membangun dan memperluas kekuasaan serta meletakkan fondasi kekaisarannya, mengatur pemerintahan, dan membagi kekuasaan serta tanggung jawab di antara delapan anaknya dengan kekuasaan tertinggi. Memberikan gambaran tentang kiprah putri-putri Genghis Khan dalam peperangan, perdagangan, dan pemerintahan.
Perebutan kekuasaan di antara anak keturunan Genghis Khan sepeninggal Genghis, termasuk perang terhadap perempuan, menimbulkan perpecahan di Kekaisaran Mongol. Semasa hidupnya, Genghis Khan memang mengandalkan dan lebih percaya kepada putri-putrinya. Genghis menempatkan putri-putrinya di empat kerajaan yang menetap. Hal ini membuat iri keturunan laki-laki, yang memegang kekuasaan di wilayah nomad di padang rumput.
Kebencian keturunan laki-laki Genghis Khan terhadap saudara-saudara perempuan dan keluarganya barangkali akibat sang ayah yang sejak muda menegaskan satu prinsip kuat yang diikutinya di sepanjang kehidupannya ketika berurusan dengan perempuan dalam keluarganya: Perempuan tidak pernah bisa ditukar dengan binatang atau tanah. Begitu berkuasa, ia menjadikan penegasan pribadi ini sebagai hukum (hal 17).
Anak-anak perempuan Genghis Khan memang terbukti lebih berguna daripada anak-anak lelakinya. Untuk menjalin aliansi dan memperluas kekuasaan, Genghis Khan menikahkan anak-anak atau cucu-cucu perempuannya dengan penguasa atau anak penguasa dari suku-suku yang kuat. Para menantu Genghis Khan diberi gelar guregen (pangeran suami), dan jika dia telah beristri, maka istri-istrinya harus diceraikan dan tidak boleh menikahi lagi orang lain. Para guregen itu lalu harus bergabung dengan Genghis Khan dalam peperangan.
Dengan tiga putri yang menjadi ratu dan memerintah wilayah bangsa Turk yang luas (di mana ada suku Karluk, Uighur, dan Onggud), maka sepanjang Jalur Sutra dikuasai. Putri-putri Genghis Khan membentuk pagar hidup yang menjadi perisai di sekeliling kampung halaman Mongol mereka. Mereka menandai perbatasan negara itu dan melindunginya dari empat arah mata angin (hal 71).
Kematian Genghis Khan menimbulkan kekosongan kekuasaan. Anak-anak lelakinya yang sering bertengkar, berebut wilayah, dan mabuk-mabukan mengeksploitasi kekosongan itu. Ogodei yang menjadi Khan menggantikan ayahnya paling sering berusaha merebut wilayah yang dikuasai saudara-saudara perempuannya sendiri, dan wilayah istri-istri Genghis Khan.
Kehancuran kekaisaran Mongol semakin jelas ketika Elberg Khan (1393-1399) membunuh anaknya sendiri, memerkosa menantunya, dan kemudian menikahinya. Bagi orang Mongol, memasuki kemah milik menantunya adalah tabu, namun Elberg Khan justru melakukan suatu kejahatan di situ. Apa yang dilakukan Elberg Khan itulah, menurut Weatherford, mendekati apa yang pernah dikatakan Genghis Khan, Ketika seorang Khan berperilaku seperti rakyat biasa, ia akan menghancurkan rakyat Mongol (hal 146).
Buku ini sesungguhnya lebih tepat disebut Sejarah Mongol karena menceritakan dibangun dan runtuhnya Kekaisaran Mongol. Tetapi mungkin karena besarnya peran putri-putri Genghis Khan di dalamnya, maka diberi judul The Secrets History of the Mongol Queens. Penyusunannya terasa sangat menarik, seolah sebuah novel yang happy ending karena pada akhirnya perjuangan Manduhai Khatun yang membesarkan dan kemudian menikah dengan Dayan Khan sukses menyatukan kembali Kekaisaran Mongol yang sebelumnya tercerai-berai. Anak keturunan mereka terus berkuasa hingga abad ke-20 walaupun pada revolusi Mongolia pada 1920-an dan kemudian di China pada 1940-an sebagian besar anak keturunan mereka dibunuh dengan berbagai alasan.
Diterbitkannya buku ini menunjukkan bahwa betapa pun tajamnya gunting sensor memotong sejarah, suatu saat potongan sejarah yang hilang itu akan dapat dirajut kembali.
Judul: Ratu Mongol, Kisah Ketangguhan Putri-putri Genghis Khan Memimpin Kekaisaran Terbesar Dunia. Penulis: Jack Weatherford. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama. Cetakan: I, 2011. Tebal: xix + 323 halaman, ISBN: 978-979-22-7173-7.[]Gramedia.com/Sumarsono/Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UNS/Harian Kompas, 22 Januari 2012

