ISLAM tidak sunyi dari dakwah. Realita di dalam masyarakat, realisasi dakwah secara umum mengandung pengertian tentang penyiaran atau penyebarluasan ajaran Islam, dengan jalan mengajak, menyeru, atau memanggil manusia agar menerima atau mengamalkan ajaran Islam, setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah.

Dalam arti luas, dapat dipahami melaksanakan kewajiban berdakwah sesuai dengan kemampuan dan kesanggupan masing-masing, (sesuai dengan kondisi, situasi dan kemampuan masing-masing, sesuai dengan dedikasi dan profesi masing-masing) adalah wajib (mengikat) segenap umat Islam yang mukallaf, siapa pun, di tempat mana pun dan ketika kapan pun.[1]

Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa melakukan kegiatan dakwah menjadi keharusan bagi setiap kaum muslimin, untuk menginformasikan pesan amar ma’ruf dan nahi mungkar sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya.

J. Sayuthi  Pulungan dalam tulisannya “Dakwah Sebagai  Solusi  Problematika Umat” menjelaskan: bahwa tujuan dakwah adalah memberikan bimbingan kepada seluruh lapisan masyarakat agar memiliki keinsafan, kesadaran dan komitmen yang tinggi untuk melaksanakan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan.[2]

Berdasarkan  pemahaman di atas dapat dipahami bahwa dakwah mempunyai tujuan urgen dan insidental. Tujuan urgen adalah mengatasi permasalahan-permasalah yang ruwet (susah) dihadapi manusia yang segera memerlukan pemecahan masalah (problem solving), yaitu permasalahan yang menghambat terwujudnya masalah yang normasif baik individu maupun kelompok.

Sedangkan insidental adalah memecahkan masalah-masalah yang terjadi sewaktu-waktu dalam masyarakat, apakah itu pembunuhan, kepincangan sosial serta pemahaman ajaran agama Islam yang tidak benar. Bila tujuan dakwah difungsikan sebagaimana tertera di atas, maka agama dapat difungsikan secara efektif dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat, sehingga terwujudlah tatanan komunitas yang Islami, yaitu masyarakat yang saleh yang dihiasi ilmu, amal, iman dan taqwa.

Dakwah dan komunikasi mempunyai hubungan yang erat dan saling mengikat. Komunikasi dapat menghasilkan nilai positif, jika bentuk komunikasi yang dipraktekkan mengaktualisasikan pesan–pesan yang dibutuhkan komunikan. Dalam melakukan komunikasi satu arah maupun dua arah atau komunikasi vertical dan horizontal.

Dengan mengunakan metode yang tepat dalam praktek komunikasi baik cara primer maupun skunder, akan tercapai objektifitas komunikasi yaitu merobah perilaku komunikan kearah positif. Adapun pencapaian tujuan dalam praktek komunikasi dapat berhasil, jika komunikator  segera dapat mengetahui keinginan dan emosional komunikan dari umpan balik yang diarakan kepadanya. Komunikator yang baik adalah orang selalu memperhatikan umpan balik (dalam komunikasi), sehingga dia dapat segera merubah gaya komunikasinya dikala dia mengetaui bahwa umpan balik dari komunikasi bersifat negatif.[3]

Berdasarkan kutipan di atas jelaslah bahwa memahami sikap komonikan dalam berinteraksi dapat mencapai objektivitas komunikasi. Sebagaimana yang diharapkan, memahami sikap dan kepribadian lawan bicaranya dapat mencapai sasaran komunikasi. Tujuan komunikasi yang sebenarnya adalah mengajak komunikasi ke jalan yang benar yaitu komunikasi yang diridhai Allah, hal itu baru terwujud dengan adanya komunikasi yang mengarah kepada amar makruf nahi mungkar.

Seperti diketahui bahwa tujuan komunikasi menyeru manusia kepada jalan Allah, untuk membentuk suatu opini yang mengarah dan mengajak manusia supaya mengikuti segala perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT. Sedang metode yang dapat dilakukan melalui pendekatan psikologis persuasive, sosiologis dan antropologis.[4] Sehingga setiap pesan yang disampaikan komunikator kepada komunikan dapat mencapai tujuan dan sasaran, yaitu mempengaruhi ke arah positif yang dianjurkan komunikator.[5]

 


[1] Endang Saifuddin Anshari, Wawasan Islam Pokok-pokok Pikiran Tentang Islam dan Umatnya,(Jakarta:Rajawali Pers, 1993), h. 179.

 

[2] J. Sayuthi Pulungan, Dakwah Sebagai Solusi Problematika Umat, (Intizar, Nomor 9, Juli 1996), h. 52.

 

[3] Efendy. Ilmu Komunikasi…., h. 19.

 

[4] Nani Sy , Komunikasi…, ( Jakarta: Tidak di terbitkan 1996), h.23.

 

[5] Phil, Astrid S. Susanto Komunikasi Dalam Teori Dan Praktek, (Jakarta: Bina Aksara, 1982),  h. 92.