__Maka ada yang menyebut bahwa generasi milenial semacam stroberry, yang mesti dirawat hati hati, selain menarik dan antik, buah ini rentan busuk___
Oleh Taufik Sentana*
Setiap anak terlahir dengan zamannya sendiri. Dan ia disiapkan untuk kehidupan di zaman hadapan pula. Termasuk persiapan kembali ke kampung akhirat. Kehidupan zaman yang sibuk, padat dan modern telah mengubah pandangan orang terhadap anak. Bahkan banyak negara maju mengalami masalah serius perihal angka kelahiran anak.
Di masyarakat kita yang modern dan bebas, mempunyai anak dan mendidiknya sebagai hal yang merepotkan. Apalagi kedua orangtuanya pekerja atau wiraswasta yang sibuk. Perkawinan di mata tipikal keluarga ini hanyalah sebagai status, dan anak adalah hal lain. Paling minimal, mereka menganggap anak sebagai “aset” (istilah industri).
Bagi keluarga yang memilki perhatian terhadap anak, zaman seperti sekarang ini mengundang kecemasan tersendiri. Baik cemas prihal pergaulan, pendidikan mahal dan tantangan dunia informasi atau hiburan serta daya saing dunia.
Terkhusus pula bagi anak yang termasuk dalam kelahiran milinial. Yang lahir jelang tahun 2000an sd sekarang. Saat kenyaatan sosial begitu akrab dengan kemajuan digital yang begitu cepat.
Bagi sebagian yang menganggap repot mendidik anak milenial, disebabkan pandangan bahwa anak anak milenial lebih susah diatur, bermental instan. Anak milenial juga mudah menyerah (bosan) dan terkesan individualis serta sangat terikat dengan dunia maya: Baik itu medsos, game, hiburan semacam tik tok dll.
Padahal kabar baiknya, anak milenial sangat berpeluang mengisi ruang masa depan yang serba canggih. Mereka juga condong untuk menjadi kreatif dan membutuhkan inspirasi untuk bertumbuh dan menjalani hidupnya dengan realitas sekarang. Walau terasa ada “jarak” yang jauh dari guru dan orang tua mereka.
Maka ada yang menyebut bahwa generasi milenial semacam stroberry, yang mesti dirawat hati hati, selain menarik dan antik, buah ini rentan busuk.
Disinilah seni orangtua dibutuhkan dalam berinteraksi dengan mereka. Kita dituntut untuk lebih memahami dan menemukan solusi bersama untuk tujuan yang sama pula demi kebaikan diri, bangsa dan agama.[]
*Praktisi pendidikan Islam
Menyusun Buku Hijrah Pendidikan




