MASYARAKAT Indonesia seperti biasanya setiap 10 November selalu memperingati Hari Pahlawan. Dewasa ini para generasi muda sangat minim dan haus informasi tentang pahlawan mereka. Sebagian besar dari mereka sangat mengharapkan adanya transformasi nilai dan semangat kepahlawanan untuk menyongsong masa depannya yang cemerlang, dan bermanfaat untuk bangsa, agama dan negara.

Walaupun demikian ada juga sebagaian generasi muda kita yang telah berhasil dalam hidupnya dalam menggapai cita-cita dan harapannya.

Mereka yang telah berhasil di hatinya telah terpatri semangat dan nilai-nilai perjuangan dari para pahlawan. Mereka berpacu dengan prestasi, mereka berkarya dan berkarier di berbagai bidang dengan penuh ketekunan dan pengorbanan demi perbaikan dan kebaikan masyarakat sesuai dengan strata dan bidang yang digeluti masing-masing.

Esensi sosok seorang pahlawan merupakan mereka yang mampu menempatkan diri pada tempatnya, tidak menzalimi orang lain, bersikap adil dalam segala tindakannya, dan mampu untuk objektif melihat sesuatu, serta bisa menahan gejolak emosi, karena orang kuat adalah pribadi yang kuat membendung kemarahanya ketika marah.

Dalam hal ini Nabi bersabda, “Orang yang kuat bukanlah seorang yang menang dalam pergulatan, tetapi manusia yang kuat adalah siapa yang mampu mengendalikan dirinya ketika dia marah.” (HR. Bukhari)

Membuka lembaran sejarah kepahlawanan dalam Islam, kita akan menemukan figur-figur luar biasa yang memang pantas disebut sebagai pahlawan sejati. Nabi Muhammad adalah sosok utama yang layak menyandang predikat tersebut, maka tidak berlebihan jika salah seorang sejarawan barat M. Heart memilih Muhammad sebagai orang paling berpengaruh di dunia.

Terlepas dari itu semua, Muhammad  merupakan pribadi sempurnya dengan kepribadian yang sempurna dan patut di teladani, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21,“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Q.S. Al-Ahzab: 21)

Bahkan Allah Swt sangat menghargai mereka yang rela berkorban dengan harta dan nyawa meraka, untuk kepentingan negara dengan agama, sebagaimana pengorbanan para syuhada dan pahlawan masa dulu. Pengorbanan mereka oleh  Allah SWT menjanjikan surga sebagai balasan dari pengorbanan mereka, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Q.S. At-Taubah: 41“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Q.S. At-Taubah: 41)

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah ahlawan dalam konteks masa kini. Pada saat ini, semangat dan nilai-nilai kepahlawanan itu masih sangat relevan dan menjadi keharusan untuk tetap ditransformasikan dari generasi ke generasi. Generasi tua hendaknya selalu dapat memberikan suri tauladan kepada generasi muda, baik dalam hal menata kehidupan bemasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui nilai-nilai keislaman. Baik dalam melaksanakan tugas kewajiban, dan menjalankan profesi masing-masin. Juga mereka generasi muda hendaknya mampu meneladani semua hal yang baik yang diwariskan dari pendahulu kita dalam hal ini baginda Rasulullah sebagai tauladan di atas segalanya dan cerminan dalam kehidupan sehari-hari. 

Generasi muda juga harus mampu menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan generasi tua, serta menghilangkan budaya egoisme, budaya pathernalistik dan sejenisnya dengan duduk bersama dialogis, saling pengertian, saling menghargai, saling mengisi, saling mengingatkan dan saling menghormati. Sehingga tercipta suasana yang kondusip, tenang, damai dan harmonis.

Nilai-nilai kepahlawanan pada masa kini perlu diaktualisasikan kembali, diwujudnyatakan dan direvitalisasi dengan memaknai sebagai sesuatu yang sangat urgen, dan sebagai sesuatu yang tidak boleh dilupakan. Implementasinya bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari dalam melaksanakan tugas atau dalam bekerja sesuai profesi masing-masing baik generasi muda maupun elemen masyarakat lainnya. 

Dalam hal ini ada tiga hal penting yang saling mendukung yang harus ada pada setiap generasi penerus dan pribadi kita masing-masing semangat, motivasi berprestasi dan ethos kerja keras. Ibaratnya mau menyeberang ke sebuah pulau impian. Semangat itu sarananya, motivasi berprestasi itu pulau impian yang dituju, dan ethos kerja keras adalah cara bagaimana kita menyeberang.

Semua ini harus disadari betul. Sebab dengan cara seperti ini kita mampu mereaktualisasikan nilai-nilai kepahlawanan itu sendiri.[]