TAPAKTUAN – Meskipun kondisi fisiknya mengalami cacat permanen karena kedua matanya tidak bisa melihat sama sekali, tapi bagi Rusli, pria berumur 41 tahun ini tidak mengenal kata menyerah dan pasrah dalam hidupnya.

Buktinya sejak dari kecil hingga sekarang dia tidak pernah menjadi tukang peminta-minta seperti lazimnya tuna netra yang banyak ditemui di Tapaktuan Ibu Kota Kabupaten Aceh Selatan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari, pria asal Gampong Pante Raja, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan ini bekerja sebagai tukang kusuk ditempat usaha Panti Pijat Tuna Netra Rusli Mandiri, di Pasar Baru depan Losmen Jambu, Gampong Kampung Hilir, Kota Tapaktuan.

Usaha yang dirintis sendiri itu telah digelutinya sejak tahun 2002 silam atau terhitung tahun 2016 ini maka sudah itu sudah dijalaninya selama 14 tahun. Tidak mengenal kata menyerah dibenak bapak empat anak dari hasil perkawinannya dengan Nurhayati, seorang perempuan asal Desa Gluk Aluya, Kecamatan Indra Jaya, Kabupaten Pidie yang dipersuntingnya pada tahun 1997 silam.

Saat dijumpai ditempat usahanya, Sabtu (22/10), pria yang sering disapa Tengku ini menuturkan, keahlian menjadi tukang kusuk professional bukan didapatkannya secara otodidak ataupun secara turun-temuran dari orang tuanya. Melainkan, keahlian itu didapatkannya dari hasil pelatihan secara khusus menjadi tukang kusuk professional hasil binaan lembaga pendidikan Panti Sosial Rehabilitasi Bina Netra Meutuah Mata (PSRBNM), Jabal Ghafur, Kabupaten Sigli.

Dia dikirim ke lembaga pendidikan itu saat masih berumur 17 tahun setelah direkrut oleh Dinas Sosial Aceh Selatan pada tahun 1993 silam melalui program Kementerian Sosial RI dengan sasaran melatih dan menyekolahkan para nutra netra yang ada di seluruh Indonesia termasuk Aceh.

“Sebenarnya, satu angkatan dengan saya saat itu ada tujuh orang tuna netra lagi asal Aceh Selatan. Tapi sayang, dari delapan orang jumlah kami asal Aceh Selatan hanya dua orang yang berhasil memiliki keahlian khusus hasil dari pendidikan itu yakni selain saya ada perempuan satu lagi asal Menggamat, Kecamatan Kluet Tengah,” ungkapnya.

Menurutnya, selama tiga tahun menempuh pendidikan di Jabal Ghafur hingga tamat tahun 1996, selain diajari bidang keahlian kusuk, teknik peternakan hewan dan pertanian dengan metode belajar teori dan praktek langsung mereka juga berkesempatan menempuh pendidikan luar sekolah hingga mendapatkan ijazah persamaan tingkat SD dan SMP.

“Dari hasil mengikuti pendidikan itu, saya berhasil mendapatkan sertifkat sebagai tukang kusuk professional dan ijazah persamaan tingkat SD dan SMP. Bagi saya pribadi program yang digagas oleh Kementerian Sosial tersebut sangat bermakna dan telah merubah hidup saya menjadi orang mandiri meskipun mengalami cacat panca indra. Apalagi akibat cacat tersebut telah mengakibatkan saya tidak bisa mengenyem pendidikan formal di kampung halaman sejak dari kecil, namun Alhamdulilah saat ini selain sudah memiliki keahlian khusus saya juga telah memiliki ijazah SD dan SMP,” sebutnya.

Dia mengungkapkan, cacat fisik kedua matanya tidak bisa melihat sama sekali tersebut bukan berasal dari pembawaan sejak lahir. Sebab buah hati dari pasangan Alm Cut Bit dan Mintijah ini awalnya dilahirkan sebagai bayi dalam kondisi normal.

Namun sayang, takdir ALLAH SWT berkata lain terhadap perjalanan hidupnya saat itu. Pada umur sekitar tiga tahun saat dia masih balita tepat sekitar tahun 1979, Rusli kecil mengalami demam tinggi hingga mengalami step.

Hidup dalam keluarga miskin dengan segala keterbatasan, cerita Rusli, pengobatan terhadapnya saat itu tidak maksimal. Sebab dengan keterbatasan ilmu pengetahuan orang tuanya, Rusli yang sedang mengalami demam tinggi saat itu hanya mendapatkan pengobatan secara tradisional (obat kampong). Akibatnya, dari demam tinggi hingga mengakibatkan Rusli yang saat itu masih balita sampai step, berdampak terhadap putusnya saraf mata hingga mengakibatkan kedua belah matanya rabun total sama sekali tidak bisa melihat.

Karena itu, dari pengalaman yang telah dialaminya tersebut Rusli mengingatkan kepada seluruh orang tua yang memiliki anak bayi atau balita, agar jangan membiarkan anaknya yang mengalami demam tinggi berlangsung lama.

“Jika ada anak bayi atau balita yang mengalami demam tinggi apalagi sampai step, sama minta kepada para orang tua segera bawa anaknya tersebut ke Puskesmas atau rumah sakit terdekat supaya segera mendapat pertolongan medis. Semoga sejarah kelam yang pernah saya alami dengan segala keterbatasan orang tua saya di zaman dulu, tidak menimpa lagi terhadap anak-anak sekarang ini,” pintu Rusli.

Rusli menyatakan, karena cacat fisik yang di deritanya bukan merupakan pembawaan sejak lahir, itu sebabnya empat orang putranya masing-masing Ismihadis (18) sudah tamat SMA, Zikra Ananda (16) kelas 3 SMP, Khairul Rizaqi (11) kelas V SD dan Alif Munawar (9) kelas II SD, semuanya terlahir dalam kondisi normal.

Menurut Rusli, dari hasil usahanya membuka usaha panti pijat tersebut tidak hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya, tapi juga mampu membeli sepetak tanah di Desa Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan. Saat ini diatas tanah yang dibeli dari hasil keringatnya itu, telah berdiri satu unit rumah tipe 36 bantuan pemerintah melalui program bantuan rumah kaum dhuafa tahun 2010 lalu.

Bagi Rusli, capaian yang telah didapatnya tersebut belumlah cukup. Sebab demi menghindari melakoni pekerjaan sebagai tukang peminta-minta dimasa hari tua nanti, mulai saat ini dia sudah mulai memikirkan serta mempersiapkan untuk mengembangkan bidang usaha selain sebagai tukang pijat.

“Demi untuk menghindari melakoni pekerjaan sebagai tukang peminta-minta saya sudah memikirkan ingin mendirikan kios kecil untuk berjualan bahan kelontong di Kota Tapaktuan. Tekad saya agar jangan sampai menjadi tukang peminta-minta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sangat kuat, buktinya dari penghasilan yang saya peroleh selama ini sebagai tukang pijat, saya juga telah membeli kebun pala di Desa Lhok Bengkuang meskipun dengan luas tidak seberapa, namun setidaknya anak-anak saya sudah ada lahan untuk menanam tanaman pala dan mengambil hasilnya demi untuk menutupi kebutuhan keluarga,” pungkasnya.[]

Laporan Hendrik Meukek