Adakalanya hati kan merasa gelisah. Terkadang tanpa sebab dan muncul begitu saja. Pada umumnya kita merasa gelisah untuk hal-hal yang kita anggap penting, seperti tanggung jawab diri, keluarga, pekerjaan dan (mungkin) obsesi atau hasrat tertentu.
Gelisah akan menjadi penyakit psikis selama ia berkembang dan menjalar dalam karakter keseharian kita. Ketika ia terus berlaku maka akan menjadi sifat dan semakin sulit menghilangkannya.
Rasa gelisah menunjukkan sikap lemah seseorang, walaupun ia tampak jaya, kuat dan mapan. Ia bisa datang dari rasa bersalah, rasa was-was, sedih dan sikap lemah diri. Kelemahan disini jama' diyakini sebagai lemah dalam taat dan berbuat shalih. Bila rasa ini muncul dalam kesalihan, maka tentulah ia berasal dari bisikan nafsu.
Maka Sang Nabi Mulia mengajak agar setiap hari berlindung kepada Allah dari was-was, sedih, sikap lemah (dalam ibadah) dan malas. Benar memang, bahwa sikap gelisah itu akan berujung pada kemalasan bila tak segera ditanggulangi dengan baik. Dan kemalasan itu akan berujung pada kerugian dan penyesalan.
Sebagai muslim, kegelisahan menjadi penanda bahwa hati dan jiwa kita tak lagi bening, sehingga tak dapat lagi menangkap sinar bahagia, nikmat dan optimisme. Saat masa ini muncul, kita hanya diminta menilai diri dengan obyektif, meerfleksi diri, menimbang amal dan meningkatkan kesalihan. Walau terasa berat, kita mesti memulai ketaatan dari awal lagi: Bertaubat, beristighfar, meminta maaf, melipatgandakan kebaikan dengan rangkaian amal tertentu dan istiqamah.
Ini hanyalah siklus hidup dan musim bagi jiwa, maka kita selalu diingatkan untuk terus memperbarui niat dan menghisab amal diri.[]
Taufik Sentana
Dari Ikatan Dai Indonesia. Sangat interes pada kajian perilaku dan psikososial.



