LHOKSEUMAWE – Pemko Lhokseumawe saban tahun membangun pasar, termasuk revitalisasi dan rehabilitasi. Namun, sejumlah pasar tidak difungsikan. Tahun ini, akan dibangun lagi dua pasar.
Data diperoleh portalsatu.com/ dari situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Lhokseumawe, tahun ini sudah dilelang dua proyek pasar. Pembangunan Pasar Daging Los B Pasar Inpres Kota Lhokseumawe dengan pagu Rp1 miliar lebih, dan pembangunan kios, kanopi, paving blok dan Pasar Simpang Line Pipa Rp1,7 miliar lebih.
Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disdagperinkop-UKM) Lhokseumawe, Irwansyah, menjawab portalsatu.com/, 30 Mei 2018, mengakui dua proyek pasar tahun ini sudah dilelang.
Irwansyah menyebutkan, pembangunan Pasar Daging Los B Pasar Inpres Kota Lhokseumawe Rp1 miliar lebih bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2018. Sedangkan pembangunan kios, kanopi, paving blok dan Pasar Simpang Line Pipa Rp1,7 miliar, Irwansyah mengatakan, “Pembanguan itu kita lakukan pergeseran untuk sementara waktu, karena ada perubahan di Jakarta bahwa tidak bisa dibangun kalau untuk kios, kanopi, paving blok tersebut”.
“Artinya harus diubah menjadi pembangunan revitalisasi Pasar Simpang Line, dengan sumber dana dari DAK senilai Rp1,7 miliar,” ujar Irwansyah melalui telepon seluler.
Menurut Irwansyah, proyek Pasar Simpang Line itu sudah ditender, tapi belum dibuat kontrak kerja.
Sebelumnya, Disdagperinkop-UKM (sebelumnya bernama Disperindagkop) sudah membangun Pasar Induk Kota Lhokseumawe di Jalan Lingkar, Gampong Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, tahun 2015 sampai 2017 mencapai Rp10 miliar lebih. Pembangunan Pasar Induk itu tahap I tahun 2015 senilai Rp2,7 miliar lebih, tahap II (tahun 2016) Rp4,8 miiar lebih, dan tahap III (tahun 2017) Rp2,5 miliar. Namun, Pasar Induk tersebut belum difungsikan. (Baca: Mengapa Pasar Induk Lhokseumawe Belum Difungsikan? Ini Kata Kabid Perdagangan)
Ada pula proyek-proyek pasar lainnya yang dibangun tahun 2012 sampai 2017. Akan tetapi, pasar-pasar itu diduga tidak memberikan kontribusi secara maksimal terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Lhokseumawe. Pasalnya, realisasi PAD dalam lima tahun terakhir tampak sangat minim, sehingga ketergantungan Pemko Lhokseumawe kepada pemerintah pusat amat besar saban tahun.
Data hasil penelusuran portalsatu.com/, menunjukkan, kontribusi PAD terhadap realisasi total Pendapatan Kota Lhokseumawe tahun 2012 sekitar 4,85 persen, 2013 sekitar 5,19 persen, 2014 sekitar 5,59 persen, 2015 sekitar 6,76 persen, dan tahun 2016 sekitar 6,19 persen. Sementara target sumbangan PAD terhadap total perubahan Pendapatan Kota Lhokseumawe 2017 sekitar 6,91 persen. (Baca: Menakar Kemampuan Keuangan Lhokseumawe)
Berikut data diperoleh portalsatu.com/ dari situs LPSE Kota Lhokseumawe, khusus proyek pasar dengan pagu di atas Rp1 miliar:
Tahun 2012
Pembangunan Pasar Ikan, Sayur dan Pelelangan Ikan di Meunasah Mesjid, Cunda (Otsus Lhokseumawe) Rp2,1 miliar lebih. Bangunan pasar yang tidak difungsikan itu sudah hancur diduga akibat dijarah pihak tidak bertanggung jawab. (Baca: Pasar Sayur yang Masih ‘Babak Belur’)
2013
Revitalisasi Pasar Pelelangan Ikan Pusong Kota Lhokseumawe Rp1,4 miliar lebih.
Revitalisasi Pasar Pujasera (Inpres) Kota Lhokseumawe Rp2,1 miliar lebih.
2014
Rehabilitasi Pasar Tradisional Buah Kota Lhokseumawe Rp3,7 miliar lebih.
Rehab Pasar Ikan Pusong Blok A dan Blok B Lhokseumawe Rp1,7 miliar lebih.
2015
Pembangunan Los dan Kios Pasar Gampong Kota Tahap II Rp1 miliar.
Rehab Pasar Pujasera Pasar Inpres (lanjutan) Rp1 miliar.
2016
Lanjutan pembangunan Los Pasar Sayur Inpres Rp1,4 miliar lebih.
Konstruksi Fisik Pasar Rakyat Pasar Pusong Kota Lhokseumawe Rp6,6 miliar lebih.
2017
Pembangunan Pasar Kuliner Waduk Gampong Pusong Rp 1,7 miliar lebih.[]
Lihat pula:
Ini Kata Anggota DPRK Terkait Pasar Tak Difungsikan
Pasar Tak Difungsikan, Anggota Dewan Sorot Disdagperinkop-UKM



