PERTENGAHAN Tahun 1877 Van der Heijden diangkat menjadi Gubernur Militer di Aceh. Waktu itu kesehatan anggota pasukan berangsur pulih kembali dari kolera, mejan dan tipes.

“Operasi pertama dilakukan Van der Heijden di Kerajaan Samalanga. pendaratan pesukan Belanda dengan kekuatan 3000 orang yang diangkut dengan 10 kapal perang dan pengangkut. Perang terjadi di daerah pesisir. Perang itu sangat dasyat dan terjadi hanya sebentar. Van der Heijden dan pasukannya memperoleh kemenangan. Kerajaraan Samalanga Takluk. Rajanya menandatangani persyaratan panjang yang terdiri 18 buah pasal yang diantaranya mengakui kedaulatan Belanda atas daerah Samalanga”. (Paulvan’tVeer: 140).

Kerajaraan Samalanga telah dikuasai. Van der Heijden merasa senang. Akan tetapi kemenangan tidaklah penting bagi rakyat Samalanga. kehilangan Kerajaraan  tidak berarti apa-apa bagi mereka. Hal itu tidak mengendorkan semangat juang bagi penduduk Samalanga. walaupun Rajanya telah tunduk kepada Belanda. Akan tetapi muncul seorang pemimpin peperangan yang memperoleh banyak dukungan rakyat.

Dengan munculnya seorang ulama yang bernama Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) menandakan adanya kekuasaan baru di Kerajaraan Samalanga. pemimpin peperangan yang baru. yaitu seorang tokoh keras yang fanatik. Beliau berasil menyemangati penduduk dalam waktu singkat.

Bersama dengan pengikutnya beliau mengumpulkan tenaga-tenaga perang di pasantrennya di Batée Iliék yang terletak jauh di pedalaman. Dayah tersebut menjadi markas besarnya dalam melawan Belanda. Daerah itu terletak 15 km dari Kerajaraan Samalanga. namun tidak dapat dicapai oleh orang-orang Belanda. 

Pengaruhnya sangat besar sekali. Sampai keseluruh wilayah Kerajaraan Samalanga. Beliau berasil mengadakan pasukan-pasukan kecil. Terdiri dari beberapa ratus orang anggota yang berdisiplin kuat serta lengkap persenjataannya kadang-kadang juga dengan bantuan pelarian orang Belanda.

Turut sertanya Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) dalam memerangi Belanda telah menetapkan peperangan itu sebagai perang suci terhadap orang-orang kafé (kafir).

Kepada murid-muridnya yang berjuang  diharuskan menurut syariat yang ditentukan oleh agama islam. Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) memberikan doa dan harapan yang diinginkan oleh murid-muridnya untuk mendapat anugrah  yang lebih besar jika meninggal sebagai seorang syahid. 

Mengenai nikmat yang akan diperoleh seorang syahid di dalam surga Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) memberikan gambaran yang amat terperinci. Bahwa pada hari kiamat kelak orang yang syahid akan berdiam di surga yang penuh dengan pohon-pohon yang sangat rindang dan air yang mengalir segar. Selain itu Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramiele) memberikan nasehat:

“Takutilah Allah yang Maha Besar dan Maha Perkasa serta taatilah perintah-perintahnya. tinggalkanlah hal-hal yang dilarangnya atau yang dimurkainya. Ajaklah para muslim ke arah itu dan mintakan supaya mereka mempersiapkan diri dalam perjuangan melawan kafeé . Jangan anda membiarkan tertipu oleh kekuatan  orang-orang kafeé ”.

Teungku Nyak Muda Ali (Teungku Ramieleé) memainkan peranan penting dalam peperangan di BatéeIlié. Beliau menekankan bahwa peperangan arus dilaksanakan menurut kekuatan-kekuatan yang telah digariskan oleh agama jika ingin diberkati Allah. 

Jika orang-orang Belanda datang menyerang Samalanga  maka hendaklah semua kita sebagai orang Aceh serentak menyerangnya dan menghancurkannya.[]

(Sumber: Zubaidah, Penulis Buku “Batee Iliek Yang Menyimpan Sejarah”)