ACEH UTARA – Tim Save the Children Indonesia berkolaborasi dengan Yayasan Geutanyoe Aceh memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak terdampak banjir bandang di Gampong Alue Anoe Timu, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara, Ahad, 4 Januari 2026.
Program itu menjadi bagian dari komitmen Save the Children untuk memperluas layanan pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak.
Kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, didampingi Plt. Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, Direktur Yayasan Geutanyoe Aceh, Al-Fadhil, Advocacy & Meal Officer Yayasan Geutanyoe, Iskandar, bersama timnya. Kedatangan mereka disambut Keuchik Gampong Alue Anoe Timu, Zulkarnaini, dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.
Ratusan anak korban banjir bandang di gampong (desa) itu tampak antusias mengikuti rangkaian aktivitas pemulihan yang dilakukan yayasan tersebut. Selain itu, Save the Children juga menyerahkan bag to school, seragam dan sejumlah perlengkapan sekolah lainnya untuk siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 11 Baktiya Aceh Utara, secara simbolis di lokasi.
Kegiatan psikososial untuk anak-anak juga dilakukan di meunasah (surau) Gampong Alue Geudong, Kecamatan Baktiya, tetangga Gampong Alue Anoe Timu. Masyarakat di sana hingga saat ini sebagian besar masih mengungsi di meunasah lantaran rumah mereka rusak dan berlumpur tebal.
CEO Save the Children Indonesia, Dessy Kurwiany Ukar, kepada wartawan mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat atau memberikan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial kepada anak-anak serta keluarga terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh Utara.
Pihaknya juga menyalurkan perlengkapan sekolah bagi anak-anak korban banjir, karena mereka akan kembali aktif sekolah dalam masa pemulihan pascabencana.
Menurut Dessy, dukungan psikososial dilakukan tidak hanya terhadap anak-anak, juga diberikan kepada guru-guru yang terdampak bencana, supaya mereka bisa kembali bersemangat dalam melakukan proses mengajar siswa saat mulai aktif sekolah.
“Kami sudah meninjau secara langsung ke desa-desa, tampak di beberapa titik sulit diakses karena kondisi jalan berlumpur cukup tebal. Saya bersama tim juga berkunjung ke Desa Alue Geudong yang ternyata masyarakat di sana masih mengungsi di meunasah lantai dua, dan tumpukan kebutuhan pokok untuk sehari-hari pun cukup banyak di dalamnya,” kata Dessy.
Adapun persawahan yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat sudah tertutup lumpur sisa banjir bandang.
Dessy menyebut sudah sebulan lebih pascabencana ternyata keadaan masyarakat terdampak banjir belum sepenuhnya terlihat normal khususnya di Aceh Utara.
Sebagimana diketahui di sejumlah wilayah Sumatera yang terdampak banjir bandang, tidak lama lagi masa tanggap darurat bencana akan selesai. Namun, kebutuhan masyarakat yang mendesak masih sangat banyak diperlukan. Di kawasan Kecamatan Baktiya, Aceh Utara perlu adanya perhatian serius secara bersama-sama.
“Kebutuhan pokok, air bersih, kesehatan, pendidikan untuk anak-anak ini adalah hal utama yang sangat penting untuk diperhatikan. Tetapi kita yakin masih banyak masyarakat Indonesia yang ingin membantu korban banjir di Sumatera. Kami dari Save the Children sudah berkomitmen melakukan respons bencana ini bukan hanya sampai masa tanggap darurat, tapi juga nanti hingga masa pemulihan, dan insya Allah sampai ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujar Dessy.
Kesiapan Aktivitas Sekolah
Plt. Sekda Aceh Utara, Jamaluddin, mengatakan untuk kesiapan aktivitas sekolah atau pembelajaran pada 5 Januari 2026, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya agar anak-anak dapat kembali mengikuti proses belajar meskipun banyak sekolah yang rusak.
Misalnya, di Kecamatan Tanah Jambo Aye, SD dan SMP sebagian besar bisa melaksanakan pembelajaran dalam kondisi aman dan normal.
“Ada juga yang belajar lesehan atau duduk di lantai, karena sudah tidak ada lagi fasilitas sekolah akibat diterjang banjir. Artinya, besok (Senin, 5/1) anak-anak sudah bisa kembali aktif di sekolah dengan berbagai upaya yang kita lakukan. Selama ini juga terlibat para relawan, TNI, Polri ikut membersihkan bangunan sekolah-sekolah di wilayah terdampak banjir Aceh Utara,” ujar Jamaluddin yang juga Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara.[]







