Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
Beranda''Saya Bawa Ganja...

”Saya Bawa Ganja Demi Anak-anak Sekolah”

LHOKSEUMAWE – Demi pendidikan anaknya, NU, perempuan berusia 35 tahun itu terpaksa menjadi kurir ganja. Aksinya di ''jalan hitam'' yang baru pertama kali dilakukan tersebut terhenti setelah polisi lalu lintas menangkapnya, Senin, 6 Maret 2017 kemarin.

NU ditangkap bersama AS, 17 tahun, saat razia kendaraan sepeda motor. Polisi menemukan 10 bak ganja siap edar dalam tas wanita asal Desa Riseh Tunong, Kecamatan Sawang, Aceh Utara tersebut. (Baca: Ada Ganja Dalam Tas Wanita Dihentikan Polisi di Simpang Selat Malaka).

“Saya nekat bawa ini (ganja) demi anak-anak sekolah. Mereka ada empat orang,” kata NU kepada portalsatu.com, usai konferensi pers di Mapolres Lhokseumawe, Selasa, 7 Maret 2017.

Dia mengaku tidak memiliki uang. Padahal kebutuhan hidup keluarganya bergantung di pundak NU. “Suami pun sudah lama berpisah,” kata NU.

NU diganjar upah sebesar Rp3 juta untuk membawa ganja tersebut ke Medan, Sumatera Utara. Sebelum tertangkap, NU dan AS, baru menerima uang dari IB, tersangka pemilik ganja, sebesar Rp1 juta. Sementara sisanya akan diberikan jika ganja tersebut tiba di Medan, Sumatera Utara.

Sementara rekannya, AS, hanya mengantar NU ke terminal bus Lhokseumawe. Lelaki asal Lhok Bayu, Sawang tersebut tidak ikut serta ke Medan.

“Sampai di sana (Medan), sudah ada yang menunggu untuk mengambil barangnya dan sisa Rp2 jutanya lagi,” cerita NU sambil meneteskan air matanya.

Dia mengaku terpaksa mengambil jalan tersebut setelah kesulitan setelah lama berpisah dengan sang suami. Selama ini, NU hanya menjadi buruh di kebun pinang milik orang dengan gaji Rp70 ribu per hari.

“Rumah sudah bocor, saat hujan saja kami ikut kebasahan. Kalau dinginnya udara, jangan ditanyakan lagi,” kata NU.

NU mengaku tergiur dengan tawaran IB untuk menjadi kurir ganja. Hal ini dilakukannya karena semata-mata sangat membutuhkan uang.

“Sekarang saya bingung. Nasib saya entah bagaimana. Tadinya nekat harus membiayai kehidupan anak-anak malah naas ditangkap. Padahal selain itu saya ingin membuat atap rumah yang sudah bocor supaya bisa dihuni oleh anak-anak saya,” kata NU.[]

Baca juga: