Karya: Taufik Sentana*

Secangkir kebahagiaan agaknya cukup

untuk menyelingi kehidupan ini.

Sebab secangkir itupun sudah terlalu banyak bagi dunia kita yang sempit dan sibuk.

Pun, yang secangkir itu saja

banyak yang tak dapat mereguknya.

Seutuhnya kebahagiaan yang secangkir itu diramu oleh ketenangan diri,

ketaatan,  kebaikan

dan makna dari keseharian kita.

Namun, banyak yang terjebak pada fantasi bahagia saja, sekadar rileks dan ekstase. 

Bukan meneguk secangkir bahagia 

yang asli murni, malah ia meneguk rasa bahagia majazi dalam glamor dunia dan sihir gaya hidup.[]

 

*Peminat sastra sufistik.

Dalam Antologi “Password Kebahagiaan”