ACEH TIMUR – 71 tahun sudah Indonesia merdeka. Sepotong harapan menanti jutaan rakyat Indonesia. Namun masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, pendidikan dan kehidupan layak masih mewarnai negeri ini.
Jauh panggang dari api, seperti itulah kemerdekaan yang masih dirasakan oleh masyarakat yang hidup di pelosok pedesaan. Mereka masih saja bermimpi untuk bisa sejahtera, sementara orang-orang di perkotaan tampak asik menikmati kemewahan dengan segala fasilitas yang ada.
Di usianya yang sudah beranjak uzur ini, seharusnya kemiskinan tidak lagi menjadi problem utama bagi negeri ini. Jika ditarik dari statistik, sudah semestinya rakyat Indonesia mencicipi kesejahteraan, terbebas dari bentuk kebodohan dan ketertinggalan.
Seperti yang ada di Tampur Paluh, sebuah desa kecil di Aceh Timur, dimana masyarakatnya hingga kini belum menikmati kemerdekaan seutuhnya. Tidak adanya aliran listrik, pendidikan minim, dan tingkat perekonomian masih jauh dari harapan.
Apalagi, desa ini berjarak sekira 170 kilometer dari ibu kota Kabupaten Aceh Timur. Bahkan untuk menuju ke desa ini tidak ada akses jalan dari Aceh Timur, harus melalui Kota Langsa dan Kabupaten Aceh Tamiang. Sekira 9 jam perjalan bila ditempuh melalui jalur darat dari Banda Aceh.
Desa berpenghuni sekira 120 kepala keluarga atau sekira 450 jiwa, dengan pekerjaan bertani dan berkebun ini, sudah puluhan tahun mendambahkan sentuhan pemerintah, terutama aliran listrik dan pendidikan.
“Bagaimana tidak, listrik yang sejak tahun 90-an diinginkan, namun hingga saat ini tak kunjung masuk. Mohon pemerintah daerah perhatikan daerah kami,” keluh seorang warga.
Sulit Bersekolah
Bukan hanya itu, menurutnya juga keinginan anak-anak kampung ini untuk bisa bersekolah pun sulit. Mereka hanya bisa berharap, merasakan bersekolah layaknya anak-anak lainnya, bisa berseragam, mengenakan sepatu dengan tas yang lengkap dengan alat tulisnya.
Mereka pun terpaksa harus bersekolah apada adanya, tanpa seragam, terkadang bertelanjang dada, mengenakan sandal japit, bahkan ada yang rela kakinya terluka lantaran tak beralas.
Namun di tengah kekurangannya, dengan semangat yang tinggi mereka berbondong-bondong pergi ke sekolah, sambil bernyanyi, saling berkejaran satu sama lain, saling canda, seolah tak ada beban apapun. Mereka tak kenal lelah meski harus menempuh perjalanan jauh dari rumah menuju sekolah.
Menurut salah seorang guru, semangat mereka tumbuh lantaran tahun ini merupakan tahun pertama di desa itu, dimana para siswa bisa mengenyam bangku sekolah menengah atas atau menengah umum. “Sebelumnya masyarakat di desa ini rata-rata hanya sekolah hingga di bangku SMP saja,”? ujar sang guru.
Tapi itulah, potret nyata sekelumit pendidikan di perkampung ujung Indonesia bagian barat ini. Sulistiawati, salah satu siswi SMU di Tempur Paluh berharap, kedepan mendapat fasilitas yang lebih baik, seperti seragam sekolah beserta peralatan tulisnya.
“Ingin sekolah seperti yang lainnya, pake seragam, pakai sepatu dan bawa tas,” tutur Setiawati dengan polosnya.
Dambakan Listrik
Gadis manis ini penuh harapan, tanpa malu ia mengungkapkan keinginannya juga ketika belajar di rumah bisa menggunakan penerang listrik. “Mbak, kami ingin ada listrik kalau boleh dipasangin, saya ingin belajar malam tidak lagi pakai obor,”? tuturnya dengan penuh harapan.
Kasus ini menjadi contoh kecil bagaimana pendidikan di Indonesia, khususnya di daerah pelosok masih sangat kurang dirasakan. Anak-anak yang memiliki cita-cita tinggi harus tergadaikan lantaran tak adanya perhatian pemerintah.Tentu ini menjadi perhatian dan tanggung jawab pemerintah.
Apalagi jelas yang tertuang dalam amanah UUD 1945, yang juga sesuai dengan Hadits Nabi bahwa setiap orang harus belajar tanpa membedakan jenis kelamin dan usia. Bahkan itu juga dipertegas dalam Undang-Undang Sisdknas tahun 2001 tentang pendidikan dasar 9 tahun.[] Sumber: okezone.com






