BANDA ACEH – Jumlah wisatawan asal Malaysia mendominasi kunjungan ke Aceh dalam beberapa tahun terakhir. Dominan wisatawan asal negeri Jiran ini berkunjung ke Museum Tsunami, situs sejarah, dan lokasi wisata Sabang.
Namun Aceh memiliki peluang lain untuk menggarap wisata yang bisa ditujukan khusus untuk turis Malaysia selain tiga objek tersebut. Salah satunya adalah wisata religi bersifat pendidikan keagamaan.
Demikian disampaikan Edi Al Rahman, salah satu guide dari Travel Musafir, kepada portalsatu.com/, Jumat, 8 Desember 2017.
“Ada warga Malaysia yang datang ke Aceh itu minta diantar ke dayah-dayah atau pesantren. Keinginan mereka untuk mengetahui bagaimana kehidupan pesantren atau dayah di Aceh dan suasana belajar mengajarnya,” kata Edi.
Selain itu, ada pula wisatawan Malaysia yang meminta jadwal khusus untuk ikut zikir dan kegiatan keagamaan lain di pesantren atau dayah, khususnya bulan Ramadhan. Menurutnya hal-hal seperti ini belum menjadi fokus utama pemerintah di Aceh.
Di sisi lain, Aceh memiliki destinasi wisata yang tidak ada di tempat lain seperti situs-situs tsunami. Aceh juga memiliki situs sejarah terbanyak di Indonesia. Sayangnya hal ini tidak mendapat perhatian besar dari pihak terkait.
“Tsunami di Indonesia cuma Aceh. Situs sejarah terbanyak di Indonesia juga ada di Aceh,” kata Edi yang mengaku banyak klien Travel Musafir asal Malaysia yang meminta berkunjung ke objek-objek tersebut.
Berdasarkan komunikasinya dengan para wisatawan, Edi menyebutkan pesisir pantai Aceh lebih bagus dibandingkan Bali. Hal inilah yang membuat wisatawan asal Malaysia sangat senang berkunjung ke Aceh.
“Aceh lebih bagus daripada Bali, karena tempatnya nyaman. Makanan mudah didapat sesuai selera lidah wisatawan, halal, dan lautnya sangat indah,” kata Edi.
Namun, ada satu harapan dari Edi selaku guide wisatawan di Aceh. Dia berharap pelaku wisata di Aceh untuk transparan masalah harga.
“Harga tidak transparan. Beda dengan Medan meskipun belum 100 persen, tapi mereka punya standar harga yang ditetapkan untuk wisatawan. Di Aceh, belum. Contohnya kalau kita hendak membawa wisatawan ke satu tempat, jasa transportasi yang kita sewa biasanya dinaikkan hingga 90 persen bahkan 100 persen dari harga standar,” ujar Edi.
Meski demikian, kata Edi, wisatawan asal Malaysia lebih nyaman ke Aceh karena tingkat kriminalitas yang minim. Aceh lebih aman dibandingkan Medan.
Edi menyebutkan pihak-pihak terkait pengelolaan wisata di Aceh juga masih kurang memanfaatkan potensi yang ada. Menurutnya Aceh memiliki alam yang indah dengan tanaman serta satwa endemik, yang tidak ada di tempat lain. Sayangnya aset tersebut tidak dikelola secara serius. Hingga saat ini, kata Edi, tidak ada yang melokalisir tanaman-tanaman dan satwa endemik Aceh sebagai laboratorium alam untuk wisatawan. Dengan luas wilayah dan besarnya sumber daya alam tersebut, laboratorium alam saat ini di Aceh hanya ada di Leuser dan pusat pelatihan Gajah di Saree.
“Di Aceh itu, wisatawan sering melihat monyet berkeliaran di Sare atau Geurute. Bahkan ada lutung di Geurute. Ini tidak ada kebijakan yang melokalisir mereka sehingga menjadi income di sektor wisata,” kata Edi.
Padahal, menurutnya, bisa saja pemerintah membuat tempat-tempat habitat satwa itu menjadi lebih baik. Pemerintah bahkan bisa mengambil tiket bagi wisatawan jika ingin melihat satwa liar seperti monyet. Dia kemudian mencontohkan seperti di Bali.
“Ini tidak, kita membiarkan begitu saja aset-aset wisata itu begitu saja. Padahal di satu sisi, satwa liar seperti itu jika diberikan makanan oleh manusia akan menjadi manja dan buas. Tidak ada guide khusus yang memberikan wawasan kepada wisatawan tentang hal itu,” katanya.
Edi juga mengaku Aceh memiliki potensi wisata berlatarbelakang wawasan kesejarahan yang bisa dikembangkan lebih baik. Dia mencontohkan taman hutan bakau di Langsa dan Taman Hutan Kota Banda Aceh. Namun, dari dua lokasi itu masih ada yang kurang.
“Sayangnya, di dua titik ini masih kurang memuaskan bagi wisatawan karena tidak menyajikan wawasan hanya sekadar rekreasi belaka,” kata Edi.
Dia kemudian merujuk Gampong Pande dan Gampong Jawa yang memiliki taman hutan bakau dan situs sejarah berupa nisan. Jika pemerintah memiliki jiwa marketing yang baik, kawasan ini menurut Edi, bisa dikembangkan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar.
“Kawasan hutan bakau di Gampong Pande dipadukan dengan nisan-nisan yang mengandung nilai-nilai sejarah dilengkapi dengan petunjuk yang jelas ke arah tempat wisata arkeologis atau wisata ecotourism sejarah, ini sangat menarik bagi wisatawan Malaysia yang ingin mengenali lebih dalam sejarah Aceh,” ujarnya lagi.
Namun, menurut dia, mengelola hutan bakau dipadu dengan wawasan seperti itu bukan dengan merusak nisan yang ada. “Biarkan nisan-nisan itu ada di tempatnya. Tata dengan baik, kemudian teliti nisan siapa itu. Buat semacam brosur atau baliho di dekat nisan tentang sejarah si empunya nisan. Buat jembatan-jembatan kayu yang melintasi hutan bakau dan situs-situs nisan itu seperti taman hutan bakau Langsa. Itu yang saat ini menjadi trend dan yang digemari wisatawan asing. Bukan cuma wisata alam begitu-begitu saja, sisip dengan ilmu pengetahuan,” katanya.[]


