BANDA ACEH – Seni Meurukon merupakan salah satu warisan budaya Islam Aceh yang memiliki peran penting dalam membangun dan memperkuat peradaban Islam di Tanah Rencong. Keberadaan tradisi tersebut menjadi bukti bahwa para ulama dan endatu Aceh pada masa lalu memiliki kecerdasan luar biasa dalam menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat.
Hal itu disampaikan dosen Pendidikan Islam di UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk. Dr. H. Teuku Zulkhairi, MA saat menjadi pemateri dalam Workshop Festival Meurukon bertema “Meurukon: Seni Tradisi Aceh yang Hampir Punah” yang berlangsung di Aula Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh, Jumat, 12 Juni 2026.
Teuku Zulkhairi diundang oleh seniman Aceh, Thayeb Loh Angen, untuk memberikan materi dalam kegiatan yang bertujuan membangkitkan kembali perhatian masyarakat terhadap salah satu khazanah budaya Islam Aceh yang mulai jarang dipraktikkan tersebut.
Selain Teuku Zulkhairi, workshop tersebut juga menghadirkan seniman Aceh Medya Hus dan Syaikh Meurukon Aceh, Tgk Ismail Husen, sebagai narasumber yang membahas sejarah, perkembangan, serta tantangan pelestarian tradisi Meurukon di tengah perubahan zaman.
Workshop Meurukon yang dilaksanakan Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) bersama Majelis Seniman Aceh (MaSA) ini, merupakan rangkaian dari Festival Meurukon – Seni Tradisi Aceh Yang Hampir Punah, yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui program Dana Indonesiana 2025 dan LPDP.
Kegiatan itu turut dihadiri oleh Piet Rusdi, S.Sos dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Yusni Saby, Prof. Dr. Hj. Lili Kasmini, S.Si., M.Si., para wakil rektor UBBG, perwakilan sekolah dan dayah, Chairiyan Ramli dari Majelis Seniman Aceh, Thayeb Loh Angen, serta ratusan mahasiswa dan undangan lainnya.
Dalam pemaparannya, Teuku Zulkhairi menegaskan bahwa keberadaan Seni Meurukon menunjukkan betapa kayanya Aceh dengan tradisi seni Islami yang telah tumbuh dan berkembang sejak masa lalu.
“Keberadaan Meurukon membuktikan bahwa seni merupakan salah satu nafas peradaban Aceh. Seni Islami yang berkembang di Aceh telah melahirkan sebuah peradaban yang indah, baik dalam tradisi lisan maupun tulisan,” ujar Wakil Ketua Majelis Akreditasi Dayah Aceh (MADA) ini.
Menurutnya, eksistensi Meurukon juga berkontribusi besar dalam memperkuat fondasi peradaban Islam di Aceh. Melalui tradisi tersebut, nilai-nilai Islam dapat ditransmisikan secara luas kepada masyarakat sehingga identitas keislaman Aceh tetap terjaga hingga sekarang.
Ia mengutip ungkapan yang sangat populer di kalangan masyarakat Aceh bahwa hubungan Aceh dan Islam ibarat “lagee zat ngon sifeut” atau seperti zat dan sifat yang tidak dapat dipisahkan.
“Keberadaan berbagai tradisi Islam, termasuk Meurukon, menjadi salah satu faktor penting yang membuat Aceh tetap dikenal sebagai daerah yang identik dengan Islam hingga hari ini,” katanya.
Lebih lanjut, Teuku Zulkhairi menjelaskan bahwa Meurukon merupakan salah satu metode pendidikan Islam warisan para endatu Aceh yang sangat efektif dalam menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat.
Melalui pola tanya jawab yang menarik dan mudah dipahami, masyarakat dari berbagai lapisan dapat mempelajari persoalan aqidah, fiqh maupun akhlak tasawuf secara sederhana namun mendalam.
“Meurukon sesungguhnya adalah media pendidikan Islam yang sangat cerdas. Melalui metode ini, masyarakat dapat memahami berbagai aspek ajaran Islam dengan cara yang dekat dengan budaya mereka sendiri,” jelasnya.
Ia juga menilai bahwa keberhasilan para ulama terdahulu dalam memanfaatkan seni sebagai media dakwah menunjukkan tingginya kecerdasan dan kreativitas para endatu Aceh dalam membangun masyarakat yang religius.
“Para ulama dan endatu Aceh dahulu tidak hanya menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami cara terbaik menyampaikan ilmu tersebut kepada masyarakat. Mereka memanfaatkan berbagai sarana, termasuk seni dan budaya, agar pesan-pesan Islam mudah diterima dan dipahami,” katanya.
Karena itu, Teuku Zulkhairi mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi, budayawan, pemerintah, sekolah dan dayah untuk bersama-sama menjaga serta melestarikan tradisi Meurukon agar tidak hilang ditelan zaman.
Menurutnya, sebuah bangsa akan kehilangan sebagian identitasnya apabila meninggalkan warisan budaya luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulunya.
“Tugas kita hari ini adalah merawat dan melestarikan seluruh tradisi mulia yang telah diwariskan oleh para endatu. Tidak akan menjadi bangsa yang mulia jika kita meninggalkan tradisi luhur yang telah dibangun oleh orang-orang terdahulu,” pungkasnya.[]








