Seringkali nama suatu daerah
bersumber dari peristiwa.
Oleh: Arif Andepa
Seniman Aceh, salah seorang pendiri Universitas Jabal Ghafur.
Edisi : 1
Perjalanan saya kali ini ke Pulau Simeulue merupakan suatu upaya melengkapi lawatan langkah menapaki Bumoe Aceh berangkat dari Banda Aceh Jumat tanggal 26 Juni 2026 pukul 11.00 WIB menuju Calang dan pukul 18.10 sore hari. Penulis menumpangi kapal Aceh Hebat 01 menyeberangi lautan selama 16 jam ke Pulau Simeulue, menyempatkan diri mewawancarai beberapa tokoh tua tentang asal usul Pulau Simeulue.
Begini kisahnya.
Nama dasar Pulau Simeulue adalah Pulau Ue (pulau kelapa) karena seluruh daratan tumbuhi banyak pohon kelapa.
Masyarakat Pulau Ue kehidupannya hampir sama juga dengan di daerah lain dan setiap wilayah ada penguasanya masing-masing. Hanya saja semua penguasa di Pulau Ue tidak berani berkotek karena kehidupan beberapa para penguasa dan masyarakat di bawah tekanan seorang sosok yang gagah berani dan penganut ilmu hitam (sihir) serta terkenal hebat tanpa tandingan. Sosok itu bersuara keras lantang dan seluruh tubuhnya berbulu, maka masyarakat menyebutnya Gong-Gong Bulu. Semua penguasa di wilayah itu lebih baik berdiam diri daripada melawan penyihir tersebut.
Salah seorang Penguasa wilayah Ujung memiliki seorang putri yang sangat cantik berkulit kuning langsat berwajah jelita. Penguasa tersebut takut anaknya diganggu Gong-Gong Bulu, maka anaknya diungsikan ke Aceh daratan ditemani beberapa pengawal.
Sesampai di Kuta Raja waktu itu Aceh di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda. Sewaktu putri cantik berjumpa Sultan, dia menyampaikan tentang kondisi kehidupan masyarakat di Pulau Ue. Setelah mendengar berita tersebut, Sultan pun mengajak Putri tersebut bersama pengawalnya untuk sementara menetap di kawasan istana sambil belajar tauhid dan akhirnya semua mereka mengucap dua kalimah syahadat.
Beberapa bulan kemudian, tanpa diundang, datanglah seorang ulama yang berasal dari Padang bernama Tgk Khalilullah. Sejak masih muda, dia sudah terkenal sangat alim dan memiliki ilmu sakti. Dia ingin menunaikan ibadah haji ke Makkah, tetapi singgah sejenak di Kuta Raja, karena ingin menjumpai Sultan Aceh lskandar Muda.
Dalam pertemuan tersebut, Sultan mengatakan kepada Tgk Khalilullah, bahwa dia lebih baik pergi mengislamkan masyarakat di Pulau Ue dari daripada naik Haji. Sultan pun mengawinkannya dengan Si Meulue (seorang putri Cantik) yang berasal dari Pulau Ue. Sultan menyebutnya Si Meulue. Pada saat Tgk Khalilullah bersama isternya pergi ke Pulau Pulau Ue, dia didampingi puluhan pasukan kerajaan Aceh. … []bersambung





