Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya: “Apabila azan dikumandangkan, maka setan berpaling sambil kentut hingga dia tidak mendengar azan tersebut. Apabila azan selesai dikumandangkan, maka ia pun kembali. Apabila dikumandangkan iqamah, setan pun berpaling lagi. Apabila iqamah selesai dikumandangkan, setan pun kembali, ia akan melintas di antara seseorang dan nafsunya. Dia berkata, “Ingatlah demikian, ingatlah demikian untuk sesuatu yang sebelumnya dia tidak mengingatnya, hingga laki-laki tersebut senantiasa tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat. Apabila salah seorang dari kalian tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, hendaklah dia bersujud dua kali dalam keadaan duduk.” (HR. Bukhari, no. 608 dan Muslim, no. 389)
Saksi bagi muazin pada hari kiamat
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah suara azan yang keras dari yang mengumandangkan azan didengar oleh jin, manusia, segala sesuatu yang mendegarnya melainkan itu semua akan menjadi saksi pada hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 609).
Termasuk juga di sini jika yang mendengar adalah hewan dan benda mati sebagaimana ditegaskan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah. Dalam riwayat lain disebutkan, “Muazin diberi ampunan dari suara kerasnya saat azan serta segala yang basah maupun yang kering akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 515; Ibnu Majah, no. 724; dan An-Nasai, no. 646.
Sanad hadis ini hasan sebagaimana dinilai oleh Al-Hafizh Abu Thahir). Termasuk juga yang mendengarnya adalah malaikat karena sama-sama tidak terlihat seperti jin.
Keutamaan azan
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya setiap orang tahu keutamaan azan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari, no. 615 dan Muslim, no. 437)
Amalan ketika mendengar azan
Lima amalan tersebut telah disebutkan oleh Ibnul Qayyim, yakni mengucapkan seperti apa yang diucapkan oleh muazin.
Bershalawat pada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah azan: Allahumma shalli ‘ala Muhammad atau membaca shalawat Ibrahimiyyah seperti yang dibaca saat tasyahud.
Meminta kepada Allah untuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wasilah dan keutamaan sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Jabir bin ‘Abdillah: Allahumma Rabba Hadzihid Da’watit Taammah Wash Shalatil Qaa-Imah, Aati Muhammadanil Wasilata Wal Fadhilah, Wab’atshu Maqaamam Mahmuuda Alladzi Wa ‘Adtah.
Membaca: Asyhadu Alla Ilaha Illallah Wahdahu Laa Syarika Lah Wa Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuluh, Radhitu Billahi Rabbaa Wa Bi Muhammadin Rasulaa Wa Bil Islami Diinaa, sebagaimana disebutkan dalam hadis Sa’ad bin Abi Waqqash.
Dan, memanjatkan doa sesuai yang diinginkan.
[] Sumber: rumaysho.com






