BerandaInspirasiMembaca Hadis Hijrah

Membaca Hadis Hijrah

Populer

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim
[Dosen dan Dekan Fakultas Syariah IAIN Lhokseumawe, dan salah seorang Pimpinan Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan Lhokseumawe]

Dalam sejarah para nabi, orang yang pertama sekali mempopulerkan konsep hijrah adalah Nabi Ibrahim alaihissalam sebagaimana terungkap dalam surah al-Ankabut ayat 26. Dikatakan demikian karena memang Ibrahim adalah nabi pertama yang mendapat perintah dakwah lebih dari satu tempat. Berbeda dengan nabi-nabi sebelumnya seperti Nuh, Hud, dan Shaleh misalnya, semuanya berdakwah di satu tempat, yaitu tempat pertama sekali mereka diutus dan hanya kepada satu kaum. Alquran tidak pernah menjelaskan apa yang dilakukan Nuh setelah ia mendarat dengan selamat di bukit Judiy bersama sejumlah orang yang beriman kepadanya. Begitu juga dengan Hud dan Shaleh. Tidak ada sumber otentik yang menunjukkan bahwa setelah selamat dari azab yang menimpa kaumnya nabi-nabi tersebut kembali berdakwah kepada kaum lainnya atau menggembleng para pengikutnya untuk kemudian menjadi pendakwah setelah mereka wafat misalnya. Atau jangan-jangan misi kenabian mereka telah selesai sampai di situ.

Hal itu samasekali berbeda dengan Ibrahim, di mana setelah selamat dari hukuman pembakaran, ia pergi meninggalkan Babilonia menuju wilayah Syam. Di sana ia meneruskan dakwah tauhidnya, setidaknya melalui Ishak, anak yang lahir dari istri pertamanya Sarah. Tidak berhenti sampai di situ, Ibrahim membawa istri keduanya Hajar bersama bayi mungil Ismail ke lembah Mekkah, menempatkannya di sana. Setelah beranjak dewasa, diajak bersamanya membangun Ka’bah. Ismail kemudian menjadi nabinya orang Arab. Perjalanan Ibrahim dari Babilonia ke negeri Syam, menempatkan keluarganya di sana, juga di Mekkah, menjelaskan dengan nyata gerak dakwah Ibrahim yang tidak ada putus-putusnya. Semangat dakwah yang terus menggelora dalam jiwanya juga terlihat dalam doa-doanya, seperti difirmankan Allah Swt, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”, (Ibrahim: 35).

Perjalanan dakwah dari satu tempat ke tempat lain inilah yang dimaksud dengan hijrah. Jadi, hijrah bukan hanya terbatas pada upaya penyelamatan diri dan agama dari kaum yang terus mengintimidasinya, tetapi juga bagaimana kemudian agama itu didakwahkan kepada orang lain. Inilah yang dilakukan oleh Ibrahim As, dan hal yang sama nantinya diteruskan oleh Rasulullah Muhammad Saw saat berhijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat kebenaran tidak diterima di satu tempat, seorang nabi harus berikhtiar mencari medan baru yang lebih kondusif untuk berdakwah. Kondisi ini diilustrasikan Allah dalam sebuah firman-Nya, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah, adapun tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana”, (al-A’raf: 35).

Memaknai Hadis Hijrah

Hijrah dalam makna di atas terus dilakukan oleh kaum muslimin era Rasulullah sejak mereka masih di Mekkah dengan eksodus ke Ethiopia dan juga ke Madinah sampai penaklukan kota Mekkah pada tahun 8 Hijriah. Pasca-peristiwa bersejarah ini Rasulullah menegaskan, “Tidak ada lagi hijrah setelah penaklukan kota Mekkah, kecuali jihad dan niat, apabila kalian diminta (oleh pemimpin) untuk berjihad maka sahutilah”, (HR: Muslim). Untuk saat itu umat Islam sudah memiliki cukup kekuatan dan wilayah untuk mengamankan diri dan agama mereka sehingga tidak ada keharusan pindah dari Mekkah ke Madinah. Kedua kota tersebut kini telah menjadi milik orang Islam, dan sekaligus menjadi pertanda penguasaan kaum muslimin atas semenanjung Arabia. Sejak saat itu hijrah mengalami perubahan dan perluasan makna (redefinisi dan generaliasi). Dalam sebuah hadisnya nabi bersabda, “Orang yang berhijrah adalah orang yang konsisten meninggalkan larangan-larangan Allah”, (HR: Bukhari).

Artinya, orang yang benar-benar berhijrah adalah orang yang mampu meninggalkan seluruh larangan Allah. Di samping maknanya yang berubah, di mana sebelumnya hijrah hanya berkutat pada proses perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lainnya, sekarang bertukar dengan perpindahan sikap dan prilaku. Jika sebelumnya hijrah itu identik dengan meninggalkan tempat, kini tumpuannya pada perbuatan. Kemudian makna ini juga lebih luas dari makna sebelumnya yang hanya terbatas pada individu tertentu dan dilakukan pada masa tertentu pula. Hijrah dalam makna konvensional hanya dilakukan sahabat nabi dan itu selesai hingga penaklukan kota Mekkah. Dengan makna baru ini, hijrah menjadi kewajiban seluruh orang beriman, kapanpun, dan di manapun.

Ada hal menarik dalam hadis hijrah di atas, di mana nabi fokus pada meninggalkan larangan, dan tidak menyinggung sedikitpun soal mengerjakan perintah. Padahal agama ini ada banyak sekali perintah yang harus dikerjakan, bukan hanya larangan yang mesti ditinggalkan. Agaknya karena memiliki karakter berbeda antara dua tuntutan tersebut sehingga nabi fokus pada salah satunya saja. Untuk mendapatkan jawaban, hadis berikut barangkali bisa memberi sedikit pencerahan, “Apa saja yang aku larang maka tinggalkanlah, dan apa yang aku perintahkan kerjakanlah semampu kalian”, (HR: Muslim). Hadis ini diriwayatkan oleh sejumlah perawi hadis dengan ragam redaksi. Ketika menegaskan larangan nabi mengatakan, “tinggalkanlah”. Tidak ada ketentuan apapun setelah itu. Berbeda saat menjelaskan tentang perintah, ada klausulnya “semampu kalian”.

Dalam menjalankan perintah, agama ini memberikan banyak keringanan atau dikenal dengan rukhsah. Nabi bersabda, “Shalatlah sambil berdiri, jika tak mampu silakan duduk, jika duduk juga tak mampu, maka boleh sambil berbaring”, (HR: Bukhari). Bagi yang sudah uzur dan renta, tak mampu puasa di bulan Ramadan, maka boleh menggantikannya dengan fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin setiap sehari puasa yang ditinggalkan. Begitu juga para musafir dan orang sakit, jika tak mampu puasa di bulan Ramadan, mereka dibolehkan menggantikan di bulan lainnya (al-Baqarah 184 – 185). Zakat hanya diwajibkan bagi mereka punya kelebihan harta dengan ketentuan sudah sampai nisab dan berumur setahun qamariyah (hijriah). Zakat hanya dikeluarkan orang kaya, tidak ada kewajiban bagi yang miskin. Nabi bersabda, “Sebaik-baik sadaqah adalah yang dikeluarkan saat seseorang memiliki kelebihan”, (HR: Muslim). Ibadah haji juga demikian, hanya diwajibkan bagi yang mampu, Allah berfirman, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah”, (Ali ‘Imran: 97).

Begitu seterusnya dengan perintah-perintah lainnya, dikerjakan jika mampu, tidak dikerjakan (gugur kewajiban) jika tak mampu. Berbeda dengan larangan, nabi tidak mempersyaratkan mampu. Terkesan, mampu tak mampu harus ditinggalkan. Hal ini karena pada dasarnya filosofi larangan adalah “tuntutan meninggalkan perbuatan”. Berbeda dengan filosofi perintah, yaitu “tuntutan mengerjakan perbuatan”. Seseorang tidak butuh apa-apa saat dituntut meninggalkan perbuatan. Ia hanya perlu duduk diam tanpa harus berbuat apa-apa. Ini hakikat larangan, sehingga sejatinya semua orang mampu menjauhi larangan. Karenanya nabi tak perlu mensyaratkan kemampuan. Berbeda dengan perintah yang merupakan tuntutan untuk mengerjakan sesuatu. Namanya saja mengerjakan, sudah barang tentu perlu kepada macam-macam fasilitas, bisa tenaga, bisa juga waktu, harta, dan lain-lain. Seseorang yang hendak mengerjakan shalat, pasti butuh kepada air untuk wudhuk, kain penutup aurat, waktu shalat, dan lain sebagainya. Adapun saat seseorang ingin menjauhi larangan tertentu, seperti berjudi misalnya, ia tidak butuh apa-apa, cukup duduk diam dan tak perlu ke mana-mana.

Namun realitanya banyak orang mampu mengerjakan perintah, tapi tidak mampu meninggalkan larangan. Ada orang setiap tahun sanggup mengeluarkan hartanya berjuta-juta, bersedekah, berhaji, umrah, dan lain-lain, tapi sangat sulit untuk tidak berbohong, atau meninggalkan ghibah, padahal tuntutannya cuma diam saja. Inilah agaknya mengapa nabi menegaskan bahwa orang berhijrah itu adalah yang mampu meninggalkan larangan. Karena hakikatnya jika seseorang melaksanakan sebuah perintah, ia sebenarnya baru mengerjakan separuh kewajiban agamanya, hinggalah ia meninggalkan larangan dengan sempurna. Perintah dan larangan merupakan satu paket yang tak bisa dipisahkan. Idealnya, seseorang yang mampu mengerjakan perintah, harusnya juga mampu meninggalkan larangan. Alquran menegaskan, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar”, (al-Ankabut: 45). Puasa juga sama, Allah berfirman, “Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”, (al-Baqarah: 183). Takwa adalah kekuatan meninggalkan larangan-larangan Allah.

Ada satu cerita menarik di zaman nabi, dituturkan oleh Abu Hurairah. Seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah Saw dan mengatakan, “Ada seseorang yang selalu shalat malam, tetapi begitu pagi hari ia pergi mencuri”. Nabi merespons aduan tersebut dengan mengatakan, “Biarkan shalatnya yang akan mencegahnya”, (HR: Ahmad). Kasus yang menimpa laki-laki ini tidak jauh bedanya dengan apa yang menimpa banyak orang dari umat ini. Dalam surah al-Fathir 32 Allah menyebutkan tiga kategori umat Islam; 1) orang-orang yang dosanya lebih banyak dari kebaikannya, 2) dosa dan kebaikannya seimbang, dan 3) kebaikannya lebih banyak dari keburukannya. Artinya, banyak orang berbuat baik, tapi pada masa yang sama ia juga berbuat buruk, mengapa?

Memang saat menjelaskan kriteria orang berhijrah nabi hanya mengatakan, mereka adalah orang yang konsisten meninggalkan larangan. Lewat hadis ini sebenaranya nabi ingin mengajarkan umatnya bahwa seseorang akan kewalahan meninggalkan larangan Allah kecuali jika ia berupaya mengerjakan perintah-Nya secara baik dan sempurna. Karena hanya shalat yang benar yang mampu mencegah seseorang dari perbuatan munkar. Begitu juga dengan puasa, harus puasa yang berkualitas, baru akan melahirkan orang beriman yang bertakwa. Begitu seterusnya dengan kebaikan-kebaikan lainnya. Intinya, orang yang berhijrah adalah orang yang menjalankan perintah agama secara berkualitas, sehingga mampu menumbuhkan kekuatan dalam dirinya untuk meninggalkan larangan Allah secara kontinu dan konsisten. Nabi pernah bersabda, “Ada orang berpuasa, namun ia tak mendapatkan apapun dari puasanya kecuali rasa lapar, dan ada orang shalat malam, iapun tak mendapatkan apa-apa dari shalatnya kecuali lelah bergadang”, (HR: Ibnu Majah). Wallahua’lam.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita terkait

Berita lainya