LHOKSUKON – Stok darah di Unit Tranfusi Darah, Palang Merah Indonesia  (UTD-PMI) Kabupeten Aceh Utara mulai menipis, khususnya golongan A dan B. Hal itu terjadi karena minimnya pendonor, sedangkan permintaan meningkat setiap harinya.

“Saat ini hanya tinggal 155 kantong darah. Masing-masing, golongan O sebanyak 74 kantong, AB 32 kantong, A 13 kantong dan B 11 kantong. Dari stoknyang ada hanya bisa digunakan 151 kantong, sedangkan empat kantong golongan O Rhesus negative atau tidak terpakai,” kata Humas UTD PMI Aceh Utara, Fauzi Abubakar, Jumat, 27 Januari 2017.

Ia menyebutkan, ada beberapa faktor penyebab kelangkaan darah. Salah satunya perubahan cuaca dari musim panas ke musim dingin, sehingga banyak warga yang terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD).

“Selama ini kami melayani kebutuhan darah 10 rumah sakit di Aceh Utara dan Lhokseumawe. Dalam sehari dibutuhkan sekitar 40 kantong darah, baik itu untuk korban kecelakaan atau pun ibu yang melahirkan,” ujarnya.

Ditambahkan, pihaknya telah melakukan berbagai cara untuk mencukupi kebutuhan darah. Di antaranya, mendatangi tempat umum (keramaian) dan instansi pemerintahan.

“Sejauh ini kesadaran PNS dan masyarakat yang mendonorkan darahnya secara sukarela masih minim. Itu terlihat dari jumlah kantong darah yang terkumpul setiap kegiatan, rata-rata 30 kantong. Padahal yang dibutuhkan sehari 40 kantong. Donor darah sangat bermanfaat bagi kesehatan, apalagi jika rutin tiga bulan sekali,” pungkas Fauzi.[]