JANTHO – Bupati Aceh Besar terpilih, Muharram Idris mengakui meminta Pemda menyediakan mobil dinas jenis Toyota Land Cruiser Prado untuk memudahkan operasional ke daerah pelosok setelah ia resmi dilantik sebagai bupati. Pasalnya, mantan Panglima GAM Wilayah Aceh Rayeuk ini sudah berhadapan dengan sulitnya medan jalan saat mengunjungi sejumlah kawasan pedalaman pada masa kampanye Pilkada Aceh Besar 2024.

Muharram Idris akrab disapa Syech Muharram mengungkapkan itu ketika portalsatu.com/ meminta tanggapannya soal kebijakan Pemkab Aceh Besar menganggarkan pengadaan lima mobil dinas pada tahun 2025. Salah satunya, mobil dinas bupati dengan pagu Rp3,1 miliar.

Baca: Pemkab Aceh Besar Anggarkan Rp7,6 Miliar untuk Lima Mobil Dinas: Bupati, Wabup, Sekda, Ketua dan Waka PKK

Hana dumnan, kon dumnan harga. Nyan kon berlebihan that nyan (Harga mobil dinas bupati tidak sampai Rp3 miliar. Itukan sangat berlebihan),” kata Syech Muharram dihubungi melalui telepon, Rabu, 29 Januari 2025, siang.

Syech Muharram sudah menanyakan kepada pihak Pemkab Aceh Besar. “Anggaran yang diplot [Rp3 M, red], tapi yang dipergunakan nanti bukan dumnan (sejumlah itu). Saya tanya pada pihak Pemkab, apakah ini tender? [Dijawab] bukan. Ini pesanan [pengadaan dengan metode pemilihan e-purchasing atau e-katalog], nanti dibayar sesuai harga mobil,” ujarnya.

Dia berharap diadakan mobil Prado untuk memudahkan dirinya menjangkau seluruh kawasan di Kabupaten Aceh Besar. “Selama ini saya pakai mobil (Toyota Harrier milik) pribadi, saya lihat memang ada kawasan yang hanjeut ta tamong (sulit diakses dengan mobil biasa)”.

“(Contohnya) kawasan Lamteuba, kawasan Seulimum, kawasan Jantho ke dalam, kawasan Leumbah Seulawah sebelah Lampanah, kawasan Lhoong. Jadi, untuk kita jangkau hari-hari peukara nyan meunoe kon (turun ke lapangan) memang harus ada kendaraan yang andal. Meuhan, han jeut tajak nyan,” tutur Syech Muharram.

Informasi diperoleh Syech Muharram dari pihak Pemkab Aceh Besar, pengadaan mobil dinas itu sedang dalam proses. “Harga berdasarkan harga jual, bukan tender, tidak ada keuntungan (yang besar) inan (bagi penyedia). Nyan menurut lon tanyong (itu menurut yang saya tanyakan”.

“Yang lain [di luar mobil dinas untuk bupati], mobil biasa semua. Saya minta memang (mobil dinas bupati) yang garang, yang bisa masuk ke pelosok-pelosok. Mobil yang mendukung dengan kondisi medan jalan di daerah pedalaman Aceh Besar. Prado kan standar,” ujar Syech Muharram.

Kendaraan dinas bupati dan wabup Aceh Besar periode kepemimpinan Mawardi Ali, kata Syech Muharram, mobil Harrier. “Selama ini saya pakai Harrier juga, mobil pribadi,” ucapnya.

Brat kendala wate ta tamong u dalam (mengalami kendala saat mengunjungi kawasan pelosok). Kadang-kadang harus berhenti di tengah perjalanan, harus jalan kaki,” lanjut Syech Muharram.

Soal mobil dinas yang mendukung operasional lapangan, Syech Muharram menamsilkan, “Untuk menjadi crane tower, itu fondasi crane harus kuat. Kalau fondasi crane tidak kuat, saat diangkat barang bisa jatuh crane itu”.

Syech Muharram lantas kembali menegaskan sepengetahuan dirinya harga mobil dinas bupati bukan Rp3,1 M. Namun, ia tidak tahu persis harga mobil Prado saat ini. “Hana lon tudub, lon peugah mantong meunye memang moto nyoe jeut, nyoe lon pakek, nyan meunan (Saya tidak tahu harganya, saya sampaikan kepada pihak Pemkab Aceh Besar, kalau memang bupati boleh menggunakan mobil Prado, ini saya pakai),” ujarnya.

“Jadi, menurut peraturan perundang-undangan, dibolehkan mobil dinas bupati (tipe Jeep) di bawah 3200 CC, di bawah 3000 CC-lah. Berarti kalau saya tidak salah, (Prado) itu CC-nya 2.8, saya lihat-lihat di internet,” tambah Syech Muharram.

Syech Muharram melanjutkan, “Jadi, pertimbangan karena medan saja. Sudah saya alami masa kampanye, pakai Harrier, saat tidak bisa melintasi medan jalan yang sulit terpaksa saya naik Triton yang double cabin”.

Dia mengalami kendala tersebut saat mengunjungi sejumlah kawasan pedalaman pada masa kampanye Pilkada 2024. “Wate kampanye, wate kamoe tron keunong musem ujeun, oma han jeut meu ta ingat. Di Cot Glie. Na padum pat, daerah Indrapuri tamong u dalam. Kamoe kon kayem meukoh-koh rab Blang Bintang-Lamteuba, alhueh nyan Blang Bintang keudeh u Krueng Raya, jalan gunong nyan, man kon meudaki nyan. Nye jalan menuju Lamteuba harus [dengan mobil] handal”.

“Kadang-kadang nanti dari Jantho harus ke Lhoong. Seperti itulah, makanya perlu (mobil) yang agak lasak bacut. Sabab lon rencana kon bupati bak kanto (saya rencana bukan bupati yang hanya kerja di kantor),” ucap Syech Muharram.

Syech Muharram menyatakan setelah resmi dilantik sebagai bupati, ia akan lebih banyak bekerja di lapangan. “Karena di kantor nanti ada Pak Wakil. Kita harus turun ke lapangan, kita tinjau langsung, maka itulah pertimbangan (meminta disediakan mobil Prado)”.[](nsy)