“Meulisan saboh cawan meuligan ngon on tampu, leupah gura dikah badan, lakoe keuh tan pruet ka ulu.” –Syair pengiring biola Aceh mobmob yang sering dibawa Syeh Maknu.
SAYA baru turun bus dari Banda Aceh saat Pasar Pagi ini masih sepi. Pembeli baru datang satu dua orang. Penjual sayur sudah ramai. Saya turun di sini untuk berbelanja buat kenduri kematian abang kami, Teungku Razali bin Sulaiman, alasan saya pulang lagi, setelah beberapa hari lalu berlebaran di Paloh Dayah.
Namun ada yang mengejutkan, sesuatu yang tidak terduga terlihat di pagi itu. Seorang pemain biola bergaya Aceh (mobmob), Syeh Maknu, menunjukkan kemampuannya, di lantai parkir Pasar Pagi Batuphat, Paloh Timu, Lhokseumawe, Jumat, 15 Juli 2016.
Syeh Maknu memainkan beberapa lagu yang biasa dibawa dalam pertunjukan Mobmob secara berkelompok. Tapi ia membawanya seorang diri.
Maknu mengatakan, sejak sekira 5 tahun lalu, ia sudah bermain biola berkeliling di beberapa tempat dalam wilayah Lhokseumawe dan Aceh Utara. Mengamen dengan biola mobmob dilakukannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang miskin.
Sebelumnya, saat masih kuat bekerja yang menguras tenaga, ia tidak mengandalkan biola sebagai alat mencari rizki. “Saya butuh biola baru untuk menghasilkan permainan yang lebih baik. Semoga ada dermawan yang bersedia membantu,” katanya, di sela bermain biola mobmob di pagi sepi itu.
Syeh Maknu, yang berasal dari Paloh Meuria, Lhokseumawe, sebelum ini, sering ke Paloh Dayah, tetangga Paloh Meuria, untuk bermain biola di rumah Syeh Dolah dan Syeh Tayeb. Syeh Dolah punya biola yang dibuatnya sendiri -berkualitas pabrik-, dan Syeh Tayeb punya sebuah biola hadiah orang.
Setelah itu, Syeh Maknu pun dihadiahi sebuah biola oleh dermawan, yang kini dipakainya untuk mengamen gaya biola mobmob seorang diri untuk mencari rizki ala kadarnya.
Di tempat terpisah, sutradara grup mobmob dari Krueng Mane, Aceh Utara, Namun, Nyakman Lamjamee, mengatakan, ketika Kesultanan Aceh Darussalam mengusir Portugis dan menguasai Kerajaan Meureuhom Daya, seni mobmob pun dilarang di sana. “Setelah itu pemain mob mob mengungsi ke Pedir (sekarang Pidie dan Pidie Jaya). Sama halnya dengan di Daya, setelah beberapa masa, mobmob pun menghilang di Pedir.
Nyakman adalah orang yang membujuk para pemain mobmob di Krueng Mane, Aceh Utara, supaya membentuk grup lagi. Ia berhasil. Grup yang beranggotakan para lanjut usia itu telah tampil di Banda Aceh, Jakarta, dan tempat lain. Termasuk undangan pertunjukan hingga Amerika.
Pegiat film dokumenter berbasis sosial budaya, Zulfadli Kawom, yang pernah melihat penampilan Syeh Maknu, mengatakan, pihaknya berencana mendokumentasikan Syeh Maknu bermain mobmob keliling.
“Saya terkejut, ada orang mengamen dengan biola mobmob, dan ia bukan dari Krueng Mane. Selama ini saya berpikir, cuma kami di Krueng Mane yang melanjutkan tradisi itu, ternyata di Paloh ada juga. Ini unik. Film dokumeter tentangnya menjadi hal penting dibuat segera. Syeh Maknu memang butuh biola baru dan sound portable,” kata Zulfadli, yang juga aktivis adat di JKMA Aceh.[]




