Masa pendaftaran Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta tengah berlangsung. Beberapa kandidat tengah mendaftar untuk bersaing di ajang tersebut.
Muncul beberapa pasangan yang akan bertarung. Sebagian besa kandidat adalah para pria.
Di antara jajaran kandidat pria itu, terselip nama Sylviana Murni. Dia adalah satu-satunya kandidat wanita berhijab di Pilkada DKI 2017 nanti.
Sosok Sylviana tidak lagi asing bagi warga Ibukota, khususnya Jakarta Pusat. Dia pernah menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat dan membuat sejumlah gebrakan.
Dia tercatat sebagai walikota yang menerapkan sistem pertanian vertikal di beberapa kawasan Jakarta Pusat, seperti di Cempaka Putih dan Tanah Abang. Alhasil, produk pertanian seperti padi dan umbi-umbian mampu dihasilkan tanpa butuh lahan, tetapi menggunakan sistem horti vertikal.
Sebelum menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat, Sylviana juga pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI. Berbekal prinsip pendidikan mampu mengubah masa depan, Sylvi berjuang.
Dia pun berhasil mencatatkan prestasi berupa sekolah gratis. Sylviana lah yang menggagas ide program Biaya Operasional Sekolah (BOS) dan Biaya Operasional Pendidikan (BOP).
Sylviana memang dikenal sebagai sosok yang tegas, lugas dan disiplin. Karakter itu tertanam dalam dirinya sejak kecil. Ayahnya yang merupakan seorang militer membentuk dia menjadi wanita tangguh.
Tidak hanya itu, Sylviana juga dikenal sebagai wanita yang religius. Nilai-nilai religi dia dapat dari tempaan sang ibunda. Dia bahkan memiliki jadwal khusus setiap bulan menggelar pengajian di rumahnya.
Pengajian yang diawali sholat Isya berjamaah itu ternyata tida hanya menjadi sarana mengumpulkan pahala. Sylviana kerap memanfaatkan momen pengajian itu sebagai sarana pertemuan dengan warga. Dengan begitu, dia tetap bisa menjaga silaturahim, berbagi ilmu, sekaligus menyosialisasikan program pemerintah.
Dari segi pendidikan, Sylviana tidak bisa diremehkan. Meski berkarir sebagai seorang birokrat, Sylviana tidak pernah mengesampingkan pendidikan.
Di tengah kesibukannya, Sylviana selalu menyisihkan waktu untuk mengerjakan tesis hingga disertasi. Alhasil, dia mampu meraih gelar profesor di usia muda dengan jumlah kum mencapai 1257. Sejumlah karya ilmiah mampu dia hasilkan, mulai buku hingga artikel jurnal.
Tidak hanya itu, hingga sekarang Sylviana memiliki jadwal mengajar di beberapa universitas di Jakarta. Beberapa universitas tersebut yaitu Universitas Borobudur, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Hamka, dan Universitas Assyafiiyah.[] Sumber: dream.co.id




