Minggu, Juni 23, 2024

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...

Kapolsek Baru Bongkar Sabu...

LHOKSEUMAWE - Kapolsek Dewantara Ipda Fadhulillah bersama anggotanya berhasil menangkap pemuda berinisial MM...

Pilkada Subulussalam: Resmi Daftar...

SUBULUSSALAM - Bakal Calon Wali Kota Subulussalam, Fajri Munthe menyerahkan berkas pendaftaran sebagai...
BerandaNewsTabarruk dengan Benda...

Tabarruk dengan Benda dan Bekasan Air Wudhu, Bolehkah?

SALAH satu bentuk realisasi tabarruk yang sering dilakuan oleh masyarakat dan juga kalangan dayah (pesantren) berupa tabarruk (ambil berkah/cok bereukat) bukan hanya terhadap orang yang mulia juga benda peninggalan orang yang mulia baik tongkat, bangunan maupun lainnya termasuk rambut . 

Kita telah mengetahui dalam pembahasan sebelumnya bahwa tabarruk secara harfiah, berkah bermakna bertambah atau berkembang. Sedangkan dalam terminologi bahasa bermakna bertambahnya kebaikan. Dalam hal ini Cok Beureukat atau tabarruk adalah mengharap tambahan kebaikan dari Allah SWT dengan perantara ruang, waktu, makhluk hidup dan bahkan benda mati.

Dalil bertabaruk dengan rambut baginda nabi sebagaimana disebutkan oleh sahabat bernama Anas r.a. Beliau menceritakan bagaimana para sahabat bertabarruk dengan rambut Rasulullah SAW dalam sebuah hadist berbunyi:

“Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang.” (H.R Muslim, Ahmad dan Baihaqi).

Bukan hanya rambut bahkan air sisa wudhu beliau para sahabat juga  bertabarruk. Ini sebagaimana di ungkapkan oleh Aun bin Abi Juhaifah, ia menceritakan dari ayahnya para sahabat yang bertabarruk dengan air sisa wudhu’ Rasulullah dan ini disebutkan dalam hadist berbunyi:

“Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamra’ dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu’ Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhu’ itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Paparan tabarruk yang lainnya juga diceritakan dalam hadits sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa para sahabat bertabarruk dengan keringat Rasulullah SAW. Berkata Anas bin Malik :

“Rasulullah SAW masuk rumah Umi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Umi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Umi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Umi Sulaim dan mendapati Nabi berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Umi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun: “Apa yang kau perbuat wahai Umi Sulaim”, tanyanya.” “Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami,” jawab Umi Sulaim. Rasulullah berkata: “Engkau benar” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Berdasarkan paparan diatas bahwa bertabarruk itu bukanlah perkara yang di larang dalam agama juga bukan perbuatan syirik. Beranjak dari itu hendaknya apabila dalam masyarakat tetdapat hal seperti demikian tidak perlu di perselisihkan dan menyalahkan sebab mereka yang mengerjakannya ada dalil bahkan para sahabat juga melakukannya. Semoga kita semakin arif dan bijaksana dalan menyikapi fenomena demikian demi terjalinnya ukhuwah dan syiar Islam.[]

Baca juga: