Sebelumnya telah dijelaskan bahwa jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum muslimin. Atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra' Miraj menjadi puncak perjalanan seorang hamba (al-abd) menuju sang pencipta (al-Khalik). Isra' Miraj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Sehingga, perjalanan ini menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi.
Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf. Sedangkan menurut Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting dari peristiwa Isra' Miraj yakni ketika Rasulullah SAW berjumpa dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata,Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah ; Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja. Allah SWT pun berfirman, Assalamualaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh.
Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Maka, dari ungkapan bersejarah inilah kemudian bacaan ini diabadikan sebagai bagian dari bacaan salat. Selain itu, Seyyed Hossein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Miraj mencerminkan hakikat spiritual dari salat yang dijalankan umat Islam sehari-hari. Dalam artian bahwa salat adalah miraj-nya orang-orang beriman. Sehingga jika kita tarik benang merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini.
Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran yang dalam. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra' Miraj dan perintah salat. Dan ketiga, salat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan. Ketiga hal di atas telah terangkum dengan sangat indah dalam salah satu ayat Alquran, yang berbunyi Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Mengacu pada berbagai aspek di atas, buku setebal 178 halaman ini setidaknya sangat menarik, karena selain memberikan bingkai yang cukup lengkap tentang peristiwa Isra Mi'raj Nabi SAW, tetapi juga memuat mirajnya beberapa Nabi yang lain serta beberapa wali. Kemudian kelebihan lain dalam buku ini adalah dipaparkan juga mengenai kisah mikrajnya Abu Yazid al-Bisthami.
Dalam pandangan beliau Mi'raj ini merupakan rujukan bagi kondisi, kedudukan, dan perjalanan ruhaninya menuju Allah. Syekh ini menggambarkan rambu-rambu jalan menuju Allah, kejujuran dan ketulusan niat menempuh perjalanan spiritual, serta keharusan melepaskan diri dari segala sesuatu selain Allah. Maka, sampai pada satu kesimpulan, bahwa jika perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra' Miraj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.[]


