Oleh: Muhammad Rain
Perkembangan sastra di daerah khususnya Aceh tidak menunjukkan arah yang signifikan, hal tersebut terkait upaya media sastra di daerah itu sendiri kurang memberikan tempat bagi sastra daerah. Majalah, surat kabar, tabloid serta jenis media cetak lainnya hanya menyiapkan pemuatan berita terkait perkembangan sastra secara umum meskipun ada satu dua berita atau karya sastra ikut tersiar di dalamnya, namun ketiadaan media cetak yang nyata secara khusus mengabarkan, memberitakan dan bahkan secara totalitas memuat juga mengulas lebih rinci sastra daerah secara berkesinambungan sangatlah minim dan langka di masa sekarang.
Tabloid Tunas hadir dari pesisir pantai Barat provinsi Aceh, penulis sempat membagikan tabloid ini kepada Mustafa Ismail dan Farhan Hamid dalam kegiatan terkait workshop kepenulisan yang diadakan sebagai satu bagian mata kegiatan berupa Kongres Peradaban Aceh 2015 di Banda Aceh beberapa bulan silam.
Tabloid Tunas merupakan upaya penerbitan yang didukung oleh para seniman Aceh Barat, turut bernaung dalam Dewan Kesenian Aceh Barat, karena media cetak lain tidak mudah menembus pemuatan berita dan karya sastra yang bersumber dari wilayah pesisir pantai Barat, maka para pelaku sastra di sana mengambil peran dan inisiatif mengupayakan penerbitan karya melalui tabloid tersebut. Sejarah terbentuknya penerbitan Tabloid Tunas Meulaboh digawangi oleh tokoh sastra Aceh Barat yaitu: H. D. Sanjaya (H. Bonimin S), Isnu Kembara, Helmizhar dan Mustiar AR.
Untuk mengatasi kesulitan dana, meskipun belum ada bantuan Pemda Aceh Barat juga meskipun salah satu penulis di Tabloid Tunas yakni Teuku Ahmad Dadek adalah pelaku sastra sekaligus pejabat di Kabupaten tersebut, Tabloid Tunas tetap berupaya meneruskan upaya penerbitan yang hingga saat ini telah menyelesaikan tiga kali cetak/edisi. Perdana sekali Tabloid Tunas diterbitkan pada akhir 2015, penulis sempat membaca draf edisi pertama pada kegiatan Kemah Seniman Aceh di Jantho tahun lalu. Buletin Tunas Meulaboh diperbanyak oleh percetakan Acehprinters Meulaboh beralamat di jalan Sisingamangaraja nomor 251 Lapang-Aceh Barat dengan susunan redaksi: ketua B. Sanjaya, wakil Isnu Kembara, editor Mustiar A.R., layout dan montage Mye Fardja sedangkan Helmizhar bertanggung jawab di bagian percetakan. Penulis tetapnya antara lain Rosni Idham, Yanimar, Syarifuddin Aliza, Nursimah, Mega Handriyana, Muhibbul Jamil, Ratna Juwita juga Sri Wahyuni.
Kepenulisan tamu dari luar Aceh antara lain dari Bogor, Jakarta, Malaysia yang setiap kali terbit mereka minta dikirim. Dari Malaysia melalui lembaga paguyuban Seuramoe Aceh turut berlangganan. Perjalanan dari perkembangan terkhir Tabloid Tunas Meulaboh telah juga dibaca oleh para seniman yang berdomisili di Jakarta melalui beberapa peminat dari Institute Kesenian Jakarta ( IKJ)- Taman Ismail Marzuki. Helmizhar (bagian percetakan) yang langsung berkunjung ke sana menyampaikan betapa besar apresiasi para seniman di sana terhadap munculnya upaya penerbitan sastra di daerah Aceh Barat.
Harapan Isnu Kembara sendiri sebagai pendiri sekaligus wakil redaksi agar ke depan para penulis sastra di Aceh khususnya Aceh Barat dapat kiat bergeliat mencipta sekaligus agar ada upaya regenerasi penulis sastra. Harapan agar tabloid ini mendapat bantuan dari Pemda setempat terus diupayakan melalui lobi untuk didistribusikan ke sekolah, ke perpustakaan-perpustakaan yang patut menjadi sarana kontributif bagi pengembangan sastra di daerah. Penerbitan perdana dengan jumlahnya 1000 eksemplar memuat beragam bentuk dan jenis tulisan sastra antara lain: cerpen, berita sastra, peristiwa dan sejarah.
Tabloid Tunas juga menghiasi halamannya berupa bagian Potret yang isinya berkenaan dengan tokoh seniman yang sepatutnya diapresiasi oleh masyarakat Aceh maupun nasional. Pada edisi 3 bulan Februari 2016 tokoh Arsad Khadam seniman tradisi (pencipta lagu Seulayang Loen Manyang) turut diulas.
Kontribusi para seniman sastra dalam upaya bersinergi membangun perkembangan baru kepenulisan melalui tabloid Tunas semakin tampak terlihat beragam usia, di antara tokoh seniman Aceh Barat yang turut menuangkan ide dan gagasannya bagi perjalanan penerbitan antara lain ada Zaid Wazir (Sutradara Teater Tradisi Dalupa), Rosni Idham (penyair yang juga pernah menjadi anggota legislatif), Syarifuddin Eliza (penulis sastra), Yanimar (penulis sastra), Teuku Ahmad Dadek (penulis sastra, penulis sejarah, seniman musik juga pejabat aktif yang saat ini menjadi kepala BAPPEDA Kabupaten Aceh Barat), Ceh Masri Hanif (penghikayat, pembaca Nazam saat ini mengelola sanggar tari Rapai Geleng di kecamatan Johan Pahlawan Gampong Meunasah Tuha), Zainon Zakaria (penulis buku budaya Aceh, pensiunan guru MTsN 1 Meulaboh), H. Ansarullah (seniman musik, pencipta lagu saat ini menjabat sebagai Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh Kabupaten Aceh Barat), Nursimah (penulis sastra), Ceh Kop bernama asli Nurabidah (penulis sastra), Adami Umar (seniman) serta yang paling penting dengan hadirnya tabloid Tunas Meulaboh para penulis muda berlatar siswa SMA yang pernah diikutkan dalam program Workshop Menulis Sastra secara mandiri yang diadakan oleh pemerhati sastra mendapat kesempatan besar memuat karya-karya mereka sendiri.
Melalui informasi yang diperoleh pada Helmizhar, beliau secara langsung mendengar apresiasi yang sangat menyemangati upaya penerbitan tabloid Tunas dari tokoh seniman nasional Jose Rizal Manua.
Jose Rizal Manua saat ditemui di Jakarta berkata: Saya sangat kaget sebab buletin ini unik dan langka, jarang sastra daerah dari wilayah bagian di Aceh diekspos sedemikian rupa.
Ibu Beky (Bagian program sekretariat IKJ) juga turut mengapresiasi dan ada pula dosen prodi Hukum dari UNPAD Lailani Sungkar menyatakan keinginan berlangganan tabloid Tunas. Dari kalangan IPB-Bogor, tabloid Tunas juga mendapat pelanggan tetap, mereka berlatar dari Ikatan Mahasiswa Tanah Rencong bertempat di Mess Lauser-Teuku Umar. Sedangkan para penulis maupun pembaca dari Malaysia, para peminat tabloid Tunas dari sana mengaku sangat terhibur dan mendapat manfaat dengan mengikuti perkembangan sastra dari daerah Meulaboh.
Aceh adalah lumbung sastra yang tak akan pernah nyalanya padam. Selain untuk pembaca berketurunan Aceh sendiri yang mendapatkan penghiburan ketika terngiang rindu kampung halaman, para penulis Malaysia sendiri mendapat ruang melatih diri untuk menulis dan berapresiasi.
Penulis dari Terengganu turut pula mengirim karya mereka, salah satu yang telah ikut memuat karyanya adalah penulis dari Perak bernama Norm Norman Mohd Yusoff, turut mengirim tulisan puisi. Penulis Malaysia mengaku mengetahui kehadiran tabloid Tunas Meulaboh melalui informasi yang berkembang di internet.
Kehadiran tabloid bergenre sastra daerah tersebut di Aceh, khususnya Aceh Barat diharapkan mampu memiliki fungsi sebagai ruang apresiasi kepada para seniman sastra di sana terutama dengan mengawali membaca bacaan karya sendiri dari daerah, menggerakkan budaya gemar membaca dan menulis sejak dini pada kalangan pelajar tetap harus dilakukan oleh generasi di daerah, meskipun telah menjadi rahasia umum bahwa minat percetakan bidang sastra tergolong sepi peminat tapi tidak menjadi alasan memundurkan semangat para penulis sastra di daerah, mencetak bidang sastra memang dirasakan penuh tantangan tersendiri, namun ke depan kita patut berharap seiring tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai kesusastraan daerah guna mendukung kesusastraan nasional, Indonesia khususnya Aceh harus terus bergerak maju bersama-sama membangun budaya literasi secara bertanggung jawab dan berkesinambungan.[]
Catatan: Tabloid Tunas ini dicetak secara suka rela oleh Helmizar dengan belanja sendiri –sekira 4 juta Rupiah sekali cetak–untuk –pada awalnya–menyiarkan karya anak-anak Meulaboh dan sekitarnya. Tunas memerlukan dukungan untuk meningkatkan kelancaran sirkulasi, sistem cetak, dan mutu karya yang disiarkan.
*Muhammad Rain adalah penulis sastra, pekerja teater, guru Bahasa dan Sastra Indonesia.





