BLANGKEJEREN – Tari saman Kabupaten Gayo Lues yang sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda milik dunia tahun 2011 silam butuh perlindungan mendesak. Selain pelestarian dan promosi yang kurang, pandemi Covid 19 ikut menghalangi pegelaran tari saman satu malam dan dua hari dua malam.
Samsul Bahri, salah satu pelaku dan tokoh tari saman Gayo Lues, Senin, 4 Juli 2022, saat diskusi kelompok terpumpun (DKT) dan penyusunan laporan periodik saman dan penyusunan draf Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi tentang Perlindungan intangible cultural haritage (ICH) Unsesco dalam daftar urgent safeguarding, mengatakan Kabupaten Gayo Lues saat ini butuh anggaran untuk melestarikan dan mempromosikan tari saman.
“Kami sangat bangga tari saman sudah diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda milik dunia, tetapi jika tidak dilestarikan dan dipromosikan, maka tari saman akan terancam punah. Dan Gayo Lues butuh perhatian khusus dari provinsi dan (pemerintah) pusat agar membuat kegiatan ataupun memberikan anggaran supaya bisa diadakan festival tari Saman atau seperti program Indonesiana sebelumnya,” katanya saat diskusi di kafe Gaterbas Lempuh Blangkejeren bersama perwakilan Direktorat Perlindungan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.
Pelaku dan tokoh tari saman Gayo Lues berharap, pemerintah pusat mengelontorkan dana untuk melestarikan tari saman, sehingga tari saman yang sudah diakui Unesco tetap lestari dan terus berkembang.
Irsan Firdaus, Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues, mengatakan diskusi yang diadakan hari ini untuk laporan periodik ke Unesco yang diadakan setiap empat tahun sekali. Pembahasan hari ini khusus begaimana nasib tari saman ke depan.
“Intinya, jika tari saman tidak dilestarikan di masa yang akan datang, maka akan terancam punah. Inilah yang kita bahas bagaimana solusinya ke depan supaya tari saman ini tidak punah, tentu Kabupaten Gayo Lues butuh sokongan Pemerintah Provinsi Aceh dan pusat untuk membuat semacam program seperti Indonesiana sebelumnya atau membantu dana supaya bisa diadakan festival ataupun bejamu saman antara warga Gayo Lues dengan kabupaten lain ataupun dengan warga luar negeri,” jelasnya.
Menurut Kadis Pariwisata, semenjak tari saman di akui Unesco sebagai warisan budaya tak benda milik dunia, banyak sekali keuntungan yang diperoleh masyarakat Gayo Lues. Akan tetapi saat ini, tari saman butuh perhatian serius untuk menghindari terancam punah.
Iriani Dewianti, Direktur Perlindungan Kebudayaan Kemendikbudirstek, mengatakan diskusi dan laporan tentang tari saman diadakan setiap empat tahun sekali, dan hari ini merupakan periode ketiga setelah tari saman diakui Unesco sebagai warisan budaya tak benda milik dunia.
“Hari ini kita membahas apakah tari saman itu masih layak, terancam punah atau tidak, dan kondisinya sudah layak untuk naik kelas, dan ini akan kita upayakan,” katanya jika hari ini tari saman masih masuk katagori terancam punah.
Pihak kementerian, kata Iriani, tidak bisa memberikan secara langsung anggaran kepada Gayo Lues untuk melestarikan tari saman, tetapi yang bisa hanya sebagai fasilitator, dan yang boleh mendanai adalah daerah.
“Untuk program Indonesiana masih ada ya, tapi bukan lagi berbentuk festival, tetapi ke penguatan SDM yang sifatnya bergulir. Dan kalau dari kementerian untuk Gayo Lues, yang bisa seperti program workshop,” jelasnya.[]






Hurus perhatian khusus untuk saman Gayo karena itulah kebanggan kita yg paling berharga saat ini. Saman Gayo harus dilestarikan dengan membuat sanggar sanggar yg dibiayai oleh Pemda serta membuat sejarah sejarah mengenai hal tersebut dan khususnya Pemda Gayo Lues untuk membuat medium khusus saman Gayo..
Mari kita saksikan dan kita ramaikan !!!!!
bejamu saman roa Lo Roa ingi antar kampung Remukut, kec, pantan cuaca, kab.gayo Lues dengan kampung pintu Gayo kec,Putri Betung Kab.Gayo Lues pada tanggal 23/24 Juli 2022, bertempat di aula gedung menasah Desa Remukut..