BANDA ACEH — Di tengah padatnya permukiman tua Gampong Pelanggahan, Kota Banda Aceh, berdiri sebuah kompleks bersejarah yang hingga kini tetap diselimuti nuansa religius dan jejak peradaban Islam masa lampau. Kompleks Masjid dan Makam Tgk Dianjong bukan sekadar tempat ibadah atau lokasi ziarah biasa, tetapi menjadi saksi hidup perjalanan panjang dakwah Islam, pusat pendidikan ulama, hingga sejarah keberangkatan haji masyarakat Nusantara dari Aceh.
Tempat ini menyimpan kisah besar tentang bagaimana Aceh tumbuh menjadi pusat peradaban Islam di Asia Tenggara dan mendapat julukan yang begitu masyhur, yakni “Serambi Mekkah”.
Kompleks tersebut didirikan sekitar abad ke-17 Masehi oleh seorang ulama besar keturunan Yaman bernama Habib Abu Bakar Bin Husein Bilfaqih. Dalam perjalanan dakwahnya di Aceh, masyarakat kemudian mengenalnya dengan sebutan Tgk Dianjong, gelar kehormatan yang lahir dari rasa hormat dan kekaguman masyarakat terhadap keilmuan serta ketokohannya.
Kala itu, Aceh dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam paling berpengaruh di Nusantara. Banyak ulama dari Timur Tengah datang ke Aceh untuk menyebarkan ajaran Islam sekaligus memperkuat hubungan keilmuan dengan kerajaan-kerajaan Islam di kawasan Asia Tenggara. Tgk Dianjong menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan syiar Islam tersebut.
Awalnya, kawasan ini merupakan sebuah dayah atau pesantren tradisional yang dibangun sebagai pusat pendidikan agama. Dari tempat sederhana itu, Tgk Dianjong mengajarkan ilmu tauhid, fikih, tasawuf, hingga pendidikan akhlak kepada masyarakat dan para santri yang datang dari berbagai daerah.
Seiring waktu, dayah tersebut berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan yang sangat berpengaruh di Aceh. Nama Tgk Dianjong semakin dikenal luas hingga ke berbagai wilayah Nusantara karena tempat itu juga menjadi persinggahan penting bagi calon jemaah haji sebelum berangkat menuju Tanah Suci Makkah.
Pada masa itu, perjalanan haji masih dilakukan menggunakan kapal laut yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. Kapal-kapal pengangkut jemaah dari Pulau Jawa, Sumatera, Semenanjung Melayu, hingga wilayah Nusantara lainnya kerap singgah di Aceh sebelum melanjutkan perjalanan ke Jazirah Arab.
Di dayah Tgk Dianjong inilah para calon jemaah haji menetap sementara untuk memperdalam ilmu agama sekaligus mengikuti manasik haji. Mereka belajar tata cara ibadah haji, memperkuat pemahaman agama, hingga mempersiapkan mental dan spiritual sebelum berangkat ke Makkah.
Tradisi itu kemudian menjadikan Aceh dikenal luas sebagai “Serambi Mekkah”, sebuah julukan yang menggambarkan Aceh sebagai gerbang awal perjalanan suci umat Islam Nusantara menuju Tanah Haram.
Tak hanya menjadi pusat pendidikan dan dakwah, kompleks Tgk Dianjong juga memiliki kaitan erat dengan sejarah perjuangan rakyat Aceh melawan kolonialisme Belanda. Pada masa perang Aceh, kawasan dayah ini sering dijadikan tempat berkumpul dan bermusyawarah para ulama serta pejuang untuk menyusun strategi perlawanan terhadap penjajah.
Semangat perjuangan dan nilai-nilai keislaman menyatu kuat dalam sejarah tempat tersebut. Dayah bukan hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga menjadi benteng moral dan semangat perjuangan rakyat Aceh dalam mempertahankan tanah air dan keyakinan mereka.
Namun, perjalanan panjang kompleks bersejarah ini sempat diterpa tragedi besar. Gempa dan tsunami dahsyat yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 menghancurkan hampir seluruh bangunan lama yang sebagian besar terbuat dari kayu tradisional. Gelombang tsunami meluluhlantakkan bangunan berusia ratusan tahun itu hingga nyaris tak tersisa.
Meski begitu, masyarakat Aceh tidak membiarkan warisan sejarah tersebut hilang begitu saja. Dengan semangat menjaga peninggalan ulama dan sejarah Islam, pembangunan kembali dilakukan menggunakan konstruksi beton yang lebih kokoh. Walau telah diperbarui, bentuk arsitektur dan nuansa bangunan tetap dipertahankan agar tidak menghilangkan nilai sejarah aslinya.
Di dalam kompleks masjid tersebut juga terdapat makam Habib Abu Bakar Bin Husein Bilfaqih bersama istrinya, Syarifah Fatimah. Hingga kini, makam tersebut menjadi salah satu tujuan wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak peziarah datang untuk mengenang jasa ulama besar penyebar Islam di Aceh sekaligus memanjatkan doa di kawasan yang sarat nilai spiritual tersebut.
Suasana religius masih begitu terasa saat memasuki kompleks ini. Lantunan ayat suci Al-Qur’an, aktivitas ibadah masyarakat, hingga keberadaan makam tua yang penuh sejarah membuat kawasan tersebut menghadirkan nuansa spiritual yang mendalam.
Bagi masyarakat Aceh, Kompleks Masjid dan Makam Tgk Dianjong bukan hanya situs sejarah biasa. Tempat ini adalah simbol perjalanan panjang syiar Islam, pusat pendidikan ulama, sekaligus pengingat bahwa Aceh pernah menjadi salah satu poros penting peradaban Islam di Nusantara.
Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi kota, jejak sejarah itu tetap bertahan di Pelanggahan. Kompleks Tgk Dianjong terus berdiri sebagai warisan spiritual dan budaya yang menghubungkan masa lalu Aceh dengan identitas religius masyarakatnya hingga hari ini.

Ketua Ikatan Agam Inong Aceh, Teuku Muhammad Aidil, mengatakan hingga saat ini kawasan wisata religi. Setiap harinya, pengunjung datang silih berganti.
“Ada yang berziarah, membaca doa, mempelajari sejarah, hingga menikmati suasana spiritual yang masih sangat terasa di kawasan tersebut,” ungkapnya pada Jum’at (22/5/2026).
Bangunan masjid yang berdiri kokoh juga menjadi daya tarik tersendiri karena tetap mempertahankan nuansa arsitektur tradisional Aceh meski telah beberapa kali direnovasi.
”Kompleks bersejarah ini sempat mengalami kerusakan parah akibat gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desember 2004,” jelasnya.
Sementara bangunan lama yang sebagian besar berbahan kayu hancur diterjang gelombang tsunami. Namun, masyarakat bersama pemerintah kembali membangun kawasan tersebut agar warisan sejarah dan perjuangan ulama Aceh tetap terjaga.
“Kini, Makam Tgk Dianjong tidak hanya menjadi tempat wisata religi, tetapi juga ruang untuk mengenang perjalanan panjang Islam di Aceh,” urainya lagi.
Di lokasi inilah pengunjung dapat melihat bagaimana Aceh pernah menjadi pusat dakwah, pendidikan Islam, hingga persinggahan jemaah haji dari berbagai penjuru Nusantara.
Keberadaan kompleks ini menjadi pengingat bahwa Aceh memiliki warisan sejarah Islam yang sangat kuat. Di tengah modernisasi kota, Makam Tgk Dianjong tetap berdiri sebagai simbol spiritual, pusat sejarah, dan destinasi wisata religi yang terus hidup di hati masyarakat Aceh maupun para peziarah yang datang dari berbagai daerah. [Adv]








