BANDA ACEH – Sebagaimana biasa, sejumlah aktivis kebudayaan bersama LSM Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh), bergotong-royong (meuseuraya) setiap pagi sampai siang Ahad (Minggu).
Hari Minggu ini, 25 September 2016, meuseuraya dilaksanakan di Komplek Makam Syaikh Tun Kamil, Gampong Pande, Banda Aceh.
Meuseuraya Mapesa tersebut untuk membersihkan batu nisan Aceh yang menyimpan data sejarah, dan sering dihadiri tokoh masyarakat.
Kali ini seorang kolektor manuskrip Jawi (Samudra Pasai dan Aceh Darussalam), Tarmizi A Hamid, ikut meuseuraya.
“Tim Mapesa temukan Harta Kesultanan Aceh,” kata Tarmizi A Hamid yang akrab disapa Cek Midi.
Harta yang dimaksudkan Tarmizi, salah satunya, batu nisan berukir kaligrafi indah yang menjadi referensi otentik sejarah. Yang disebut, di antara negara sezaman, hanya Pasai dan Aceh Darussalam, menghasilkan nisan bernilai tinggi, dalam jumlah banyak.
Sebagaimana diketahui, bagi pakar, pegiat, peneliti, pencinta dan penikmat Sejarah Aceh Darussalam nama Kampung Pande tak asing lagi kedengarannya.
Gampong Pande (kawasan pertukangan) yang terletak di sisi utara pinggiran Kota Banda Aceh ini menyimpan banyak harta kejayaaan Kesultanan Aceh Darussalam.
Menurut Cek Midi, hal tersebut jika dilihat dari kacamata ahli sejarah memang tidak terbantahkan. Di mana kawasan ini masa lalu terletak sebuah kawasan gudang pertukangan untuk semua jenis pernak pernik lambang kemewahan Kesultanan Aceh Darussalam, salah satunya adalah batu nisan berbagai ragam hias, di samping kawasan ini banyak juga dulu ditemukan mata uang Aceh, yaitu Dinar, Dirham, dan Keuh.
“Berdasarkan banyak temuan artefak budaya ini bahwa Kampung Pande layak ibarat sebuah kota yang hilang (the lost city) dan sudah sepantasnya dunia aercheological mengusulkan kawasan ini menjadi kawasan situs warisan dunia.
Tarmizi mengangkat salut, bahwa baru-baru ini Mapesa secara mengejutkan menemukan sebuah komplek Makam Nisan Kuno milik para intelektual Kesultanan Aceh masa lalu.
“Yang sudah berhasil diangkat kepermukaan sebanyak 30 batu Nisan yang kesemuanya diprediksikan berdasarkan deteksi secara manual mencapai ratusan nisan yang masih terpendam di bawah air empang dan lumpur,” katanya.
Cek Midi mengatakan, berdasarkan hasil yang sudah dibaca (inskripsi) oleh Pakar Epigrafi Aceh, Tgk Taqiyuddin Muhammad, Lc, nisan yang sudah direstorasi tersebut adalah Nisan Syaikul Askar, Nisan Syekh Tun Kamil, Nisan Almarhumah Sitti Ula Syah binti Sultan Alaidin bin Sultan Ali.
“Semuanya dipahat pada 1544 Masehi, itu bernilai tinggi, bukti bahwa peradaban Aceh pernah gemilang,” kata Tarmizi A Hamid.[]





