BANDA ACEH – Taman bacaan masyarakat (TBM) Rumah Baca Aneuk Nanggroe (Ruman) Aceh dikunjungi beberapa pegiat literasi dari 3 kabupaten. Yaitu, Bener Meriah, Aceh Barat dan Aceh Tamiang.
Mereka diterima Pembina TBM Ruman Aceh, Ahmad Arif di sekretariatnya di Gampong Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. “Sebuah kebahagiaan sekaligus kehormatan bagi kami atas kunjungan para pegiat literasi dan seorang pustakawan ke basecamp Ruman Aceh. Sehingga bisa berbagi cerita serta pengalaman unik dan inspiratif”, ujar Arif.
Pegiat literasi dari Kabupaten Bener Meriah, ungkap Arif adalah yang pertama kali tiba pada Selasa (25/6) sore. Yaitu, pasangan suami istri yang menjadi relawan program rumah pustaka sejak setahun lalu.
Ada pun pegiat literasi kedua dari Kabupaten Aceh Barat tiba pada Kamis (27/6) petang. Sedangkan ketiga pada pengujung senja Jumat (28/6) dari Kabupaten Aceh Tamiang.
“Salah seorang pegiat literasi dari Aceh Tamiang sedang menulis thesis magisternya di Universitas Sumatera Utara perihal dampak keberadaan DKA (Dewan Kesenian Aceh) terhadap komunitas. Kita sempat mendiskusikan hal tersebut”, imbuh Arif.
Cut Putri Dinata, pegiat literasi dari Meulaboh, Aceh Barat merasa sangat penasaran dengan kiprah Ruman Aceh dan sangat ingin melihat langsung tempat dan mengetahui proses perjalannya.
“Kebetulan saya baru selesai mengikuti bimbingan teknis tentang pengelolaan perpustakaan di Banda Aceh. Sebelum kembali ke Meulaboh, saya menyengajakan berkunjung ke Ruman Aceh untuk mengetahui lika liku perjalanan mereka”, ungkap Putri.
Pertemuan Calon Relawan
TBM RUMAN Aceh juga menggelar pertemuan dengan calon relawan pustaka pada Sabtu (29/6) pagi hingga siang di basecamp mereka.
Pertemuan yang dipimpin langsung oleh Pembina TBM RUMAN Aceh, Ahmad Arif itu dihadiri oleh lima orang calon relawan baru dan dua orang relawan lama.
Mayoritas calon relawan kita masih berstatus sebagai mahasiswa. Seorang lainnya baru wisuda sarjana, bahkan seorang di antaranya adalah alumni S2 Hubungan Itnternasional UGM.
“Konsep kerelawanan kita sangat sederhana. Tergambar dalam ungkapan berikut. Yaitu, siapa saja yang mampu meluangkan waktu, bukan memberi waktu luang”, pungkas Arif.[](rilis)




