DI langit terlihat mendung, dan hujan pun turun menyiram sebagian permukaan kota Banda Aceh. Hari itu adalah Jumat pertama di bulan Ramadhan 1439 H/ 18 Mei 2018.

Kubah-kubah hijau Masjid Agung Al-Makmur yang terdiri dari dua kubah kecil di ujung menara yang menjulang, dan satu kubah besar induk di antara lainnya kini terlihat sedang dibasahi hujan.

Di bawah kubah-kubah hijau itu terdengar suara dari Dr. H. Ilham Maulana yang tengah berkhutbah Jumat.

Nasihat-nasihatnya terus terdengar memenuhi seluruh ruangan masjid yang berciri khas Arab modern. Di dinding depan lantai dua, di kiri-kanan terdapat dua monitor berukuran sedang, di sana terlihat sang khatib jumat ini berbicara tentang ‘Pengaruh dan fungsi pendengaran bagi manusia’.

Ustaz Ilham mengatakan, manusia ketika dilahirkan dari rahim, dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan manusia itu pun kemudian diberikan pengdengaran dan penglihatan, sehingga manusia pun kelak dituntut untuk memanfaatkannya pada kebajikan.

“Kata sam’a (mendengar) disebutkan lebih awal dalam Alquran oleh Allah SWT dalam banyak ayat. Sam’a lebih membuat kita menjadi lebih beriman atau menjadi kafir setelah mendengar. Maka sebab itu bayi yang baru lahir harus diazankan sebelum mendengar suara lain,” katanya.

Ust. Ilham mengatakan, salah satu organ manusia yang tidak pernah istirahat selama-lamanya ialah pendengaran. Meski kita sedang tidur atau pingsan, juga banyak orang yang ketika mendekati sakratul maut matanya telah berpejam, sedangkan pendengaran masih bisa merasakan, maka disuruhlah padanya kita mengucapkan dua kalimah syahadat.

“Dalam sejarah Islam juga banyak memberikan contoh tentang bagaimana kisah ketika awal mulanya para sahabat masuk Islam. Seperti Sayyidina Umar bin Khattab ra., masuk Islam karena mendengar, dan banyak orang-orang di zaman Rasulullah masuk Islam karena mendengar,” katanya.

Ia mengatakan, adalah kesempatan yang baik untuk kita di bulan Ramadhan ini untuk manfaatkannya dengan melatih pendengaran, mendengar bacaan-bacaan ayat suci Alquran, dan ceramah-ceramah. Mereka yang telah diberi potensi untuk berbuat kebaikan, maka berhak mendapatkan hukuman bila menggunakan potensi tersebut pada selain untuk kebajikan.

“Ramadan ini cuma sebentar dan kita tanpa sadar ramadan ini pun akan berlalu, maka dengan sebab itu perbanyakkan amal ibadah di bulan yang mulia ini, terutama dengan banyak melatih fungsi pendengaran untuk mendengar ceramah, dan bacaan-bacaan ayat suci Alquran,” katanya.

Ust. Ilham mengatakan, semua anak terlahir dalam keadaan fitrah, namun kita kemudian berubah karena telah mendengar banyak hal dan melihat banyak hal, dan kemudian kita bermaksiat.

Ketika shalat jumat telah selesai, di luar hujan pun masih belum reda. Sebagian jamaah memilih untuk beriktikaf dan membaca Alquran sambil duduk di atas karpet merah lantai masjid.

Sementara di ruang tunggu, seorang lelaki Palestina memakai peci putih berkaos hitam di depan meja sedang duduk menghadap pintu masuk dan di tangannya terlihat sedang menggenggam Alquranul Karim, ia sedang membaca Alquran.

Kemudian seorang pemuda berwajah khas Palestina lainnya  pun datang dan duduk di kursi meja berhadapan dengan temannya yang lebih dahulu datang, pemuda berbaju kemeja hitam tanpa peci ia pun mengambil mushaf Alquran dan membacanya.

Tak lama kemudian datang seorang remaja laki-laki berpakaian gamis (ahli masjid) berdiri di dekat salah satu lelaki Palestina yang sedang membaca Alquran dan ia memperhatikan. Kemudian ustaz dari Palestina itu mengajak si remaja untuk ikut membaca bersamanya, sebentar kemudian terlihat mereka sedang belajar-mengajar Alquran. Remaja itu mengulang, dan meniru apa yang dibacakan oleh Muslim Palestina itu.

Ketika portalsatu.com/ menanyakan tentang dua warga Palestina itu, Imam Masjid Agung Al-Makmur Ustaz Yusby Yusuf mengatakan, dua Muslim Palestina itu telah mendapat perlindungan dari lembaga kemanusiaan dunia. Mereka sebelumnya menetap di Jakarta dan kini diajak ke Aceh.

Masjid Al-Makmur adalah salah satu masjid berciri khas Arab yang ada di Aceh, keindahan desain, kaligrafi, dan ornamen-ornamen yang di bawah kubah-kubah hijau itu tiang-tiang kokoh berdiri dengan warna coklat, dan berbentuk khas Arab.

Kaligrafi menghias dinding atas mimbar dengan didominasi warna hijau, dan sebaris juga terlihat membentang di sisi-sisi pembatas antara lantai satu dengan lantai dua, juga pada bawah kubahnya terlihat goresan-kaligrafi indah dengan perpaduan beberapa warna.

Di halaman utara dan selatan masjid terlihat masing-masing terdapat satu tenda tambahan untuk jamaah selama ramadhan. Hujan pun membasahi tenda itu.[]

Penulis: Jamaluddin