Senin, Juni 24, 2024

Judi Online: Antara Frustasi...

Oleh: Muhammad Syahrial Razali Ibrahim, Dosen Fakultas Syariah IAIN LhokseumawePemberitaan judi online akhir-akhir...

Hujan dan Angin Kencang,...

ACEH UTARA - Dua rumah di Dusun Dua Lampoh U, Keude Pantonlabu, Kecamatan...

Jelang Pilkada Subulussalam, Fajri...

SUBULUSSALAM - Komunikasi elit partai politik jelang Pilkada Subulussalam mulai terlihat intens. Terbaru,...

Jemaah Haji Aceh Dipulangkan...

BANDA ACEH – Jemaah Haji Debarkasi Aceh (BTJ) akan dipulangkan dari Arab Saudi...
BerandaBerita BireuenTeuku Ismuhadi Jafar...

Teuku Ismuhadi Jafar Buka Kebun Alpukat Dataran Rendah di Paya Meuneng

BIREUEN – Teungku Ismuhadi Jafar mengembangkan lahan tidur dengan membudidayakan alpukat di Paya Meuneng, Kecamatan Peusangan, Bireuen.

Kebun seluas sekira 1,5 hektare itu diresmikan dengan dipeusijuek oleh Imum Syik Mesjid Besar Peusangan Tgk Muhammad Hafidz Ssy, Kamis 18 Mei 2023.

Pada kesempatan tersebut, Teuku Ismuhadi mengatakan, dia menanami ratusan pohon alpukat variates unggul merupakan bagian dari upaya kita memotivasi masyarakat ubtuk membudidayakan tanaman yang bernilai ekonomi tinggi.

“Hasil penelitian kami, berbagai kawasan di Kabupaten Bireuen memiliki peluang dijadikan sentra penghasil alpukat unggulan. Daerah kita memang cocok dikembangkan budidaya alpukat, terutama alpukat variates dengan ras asal dataran rendah di Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang beriklim tropis,” kata pria yang akrab disapa Tgk Ismuhadi Peusangan ini.

Kata Ismuhadi, pohon alpukat tidak hanya cocok dikembangkan di dataran tinggi seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah, tapi juga bisa dibudidayakan di dataran rendah seperti di Kabupaten Bireuen. “Ini yang perlu dipahami oleh masyarakat kita,” katanya.

Budidaya ratusan pohon alpukat yang dikembangkan Ismuhadi ini merupakan variates unggul dengan berbagai jenis. Antara lain alpukat miki yang memang variates khusus untuk dataran rendah dan alpukat hass atau yang lebih dikenal dengan sebutan alpukat Australia.

“Alpukat hass termasuk alpukat paling laku di pasar internasional dengan harga jual yang fantastis. Di berbagai supermarket, buah alpukat hass dijual Rp120-150 ribu per kilogram,” katanya.

Selain itu, lanjut Ismuhadi, di lahan seluas 1,5 hektare tersebut juga dikembangkan alpukat kendi dengan ukuran buah lebih besar dibandingkan alpukat miki dan variates serupa lainnya. “Di lahan ini juga kita kembangkan berbagai jenis alpukat lainnya, seperti alligator dan wina,” paparnya.

Mantan Napol Aceh ini berharap, pemerintah daerah dapat mendorong masyarakat Kabupaten Bireuen untuk memanfaatkan lahan tidur dengan mengembangkan budidaya alpukat.

“Kalau dikembangkan dengan sungguh-sungguh, Insya Allah budidaya alpukat nantinya bisa menjadi potensi pendapatan daerah dari sektor hortikultura,” katanya.

Menurutnya, budidaya tanaman alpukat tergolong mudah dan tidak memerlukan perawatan yang mahal namun hasilnya cukup menjanjikan. “Asalkan struktur tanah terpenuhi dan perawatan dilakukan secara teratur, pohon alpukat akan tumbuh dengan baik dan cepat berbuah,” ungkapnya.

Tgk Ismuhadi menambahkan, bibit tanaman alpukat pun tergolong murah dibandingkan bibit durian atau anggur. “Kalau yang masih kecil, bibit alpukat hanya Rp20 ribu per batang. Bisa dibeli dalam jumlah kecil dan dikumpulkan terlebih dahulu, sebelum ditanam sesuai kebutuhan lahan nantinya,” kata owner Resto & Cafee Lampoh Kupi Jakarta ini.

Dikatakannya, budidaya alpukat juga perlu dicoba kalangan milinial karena usaha tersebut memiliki peluang bisnis yang menjanjikan. “Buah alpukat memiliki nilai ekonomis yang lumayan tinggi. Jangka waktu panen juga relatif singkat, sekitar tiga hingga empat tahun,” imbuh Tgk Ismuhadi.

Penanaman perdana budaya alpukat di kawasan Paya Meuneng tersebut ikut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat Kabupaten Bireuen, seperti mantan juru runding GAM pada masa COHA Tgk Nasruddin bin Ahmad, Mukhlis Takabeya, dan para undangan lainnya.[]

 

Baca juga: