BLANGKEJEREN – Masyarakat yang memiliki lahan tidur di Kabupaten Gayo Lues diajak oleh Wakil Bupati H. Maliki menanam kopi Gayo atau kopi Arabika. Selain sangat menguntungkan, kopi Gayo juga sedang menjadi incaran pencinta kopi dunia.
“Sekarang ini masih banyak sekali lahan tidur di Kabupaten Gayo Lues, jika semua lahan tidur itu ditanami kopi oleh warga, pasti sangat menguntungkan,” kata Wabup Maliki, Selasa, 31 Maret 2026.
Hari ini, kata Wabup, harga gabah kopi dibeli tauke mencapai Rp70 ribu per bambu. Harga diperkirakan akan terus naik hingga beberapa tahun ke depan.
“Dari hasil bincang-bincang kami dengan beberapa petani dan tauke, dalam satu batang kopi rata-rata bisa menghasilkan satu bambu gabah kopi per tahunnya. Jika satu Kepala Keluarga (KK) menanam 2.000 batang kopi, maka penghasilan petani kopi bisa mencapai Rp140 juta per tahunya,” ujarnya.
Jumlah uang Rp140 juta itu, kata Wabup, memang angka masih kotor jika dikurangkan dengan biaya panen, pemupukan, dan pembersihan lahan. Namun, jika dikalkulasikan, rata-rata penghasilan petani kopi bisa di atas Rp5 juta per bulan.
“Jika memang warga masih ragu, boleh bercerita dengan petani kopi yang sudah panen. Baik tentang hasilnya, tentang perawatannya, tentang kemudahanya dan juga tentang kesulitanya,” katanya.
Untuk memudahkan warga yang hendak menanam kopi gayo, kata Wabup, Pemkab Gayo Lues sudah menyiapkan bibit dalam program GeRetEK (Gerakan Restorasi Ekonomi Kerakyatan). Pada Juli atau Agustus akan dibagikan secara gratis kepada warga yang mau menanam kopi.
“Lahan tidur itupun jangan serta merta ditanami kopi dulu, lihat dulu ketinggiannya, pelajari dulu cara menanam dan perawatanya, supaya bisa berhasil,” ujarnya.[]




