SUASANA di halaman Masjid Al Mabrur, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten Aceh Barat tampak ramai. Di masjid yang hanya berjarak 0,30 Km dari bundaran Tugu Pelor ini sedang ada aktifitas masak-memasak untuk berbuka puasa.

Di bawah tenda tampak delapan orang pria paruh baya. Tiga di antaranya sedang mengupas bawang dan memotong cabai. Selebihnya sibuk mengerjakan beberapa bumbu dapur lainnya. Seperlemparan batu ke sisi kiri mereka terdapat tungku berbelanga raksasa. 

Seorang pria didampingi tiga rekannya, terlihat sibuk mengaduk bubur yang ada di dalam belanga tersebut. Hawa panas menyeruak bersama bau harum yang khas rempah-rempah dari dalam belanga. Sementara waktu telah menunjukkan pukul 15.00 WIB, atau sekitar 3,4 jam lagi menuju waktu berbuka puasa.

Saat dikunjungi portalsatu.com/, Minggu 27 Mei 2018, warga sedang memasak Kanji Rumbi, yakni sejenis bubur khas Aceh yang memiliki citarasa unik, mirip dengan bubur ayam yang dijual di daerah lain Indonesia.

Di bulan ramadhan, Masjid Al-Mabrur atau dikenal dengan masjid Ujung Kalak memang disibukkan dengan aktifitas masak bersama yang dilakukan oleh warga. 

Rutinitas menyiapkan menu untuk berbuka puasa dengan masak bersama di Masjid Al-Mabrur sudah dilakukan oleh warga setempat secara turun temurun.

“Masak bersama sudah menjadi tradisi kami di Ujung Kalak,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Buka Bersama Masjid Al-Mabrur, Irvan Tata, saat dijumpai portalsatu, Minggu, 27 Mei 2018. Irvan tak menyebutkan secara pasti, kapan atau pada masa apa tradisi tersebut sudah dimulai.

Tradisi masak bersama di bulan puasa melibatkan hampir seluruh warga setempat. Bahan-bahan untuk menu berbuka hampir seluruhnya merupakan pemberian warga, selain juga adakalanya terdapat donatur yang ikut berkontribusi.

Menu yang disajikan pun berbeda tiap harinya. “Kadang gulai bebek, kadang kambing. Kebetulan hari ini kita masak Kanji Rumbi,” kata Irvan. Yang terakhir disebutkan, imbuh Irvan, merupakan menu andalan yang sering disajikan untuk berbuka puasa di sejumlah masjid atau mushala di beberapa wilayah yang ada di Aceh.

Aktifitas masak bersama tersebut dimulai ba'da dhuhur, tepatnya pukul 14.00 WIB. Biasanya dilakukan secara bergiliran oleh warga, orangtua, atau pemuda setempat. 

“Namun, adakalanya sudah dimulai sejak pagi, tergantung jumlah dimenu yang kita buat,” ujarnya. Biasanya, kalau menu berbuka berlebih, maka akan dibagi ke masjid lainnya di Meulaboh, seperti Masjid Nurul Huda.

Irvan mengatakan, sajian berbuka yang dimasak di Masjid Al-Mabrur tak hanya dikhususkan untuk warga setempat. Namun, bagj musafir atau pelintas yang ingin singgah untuk berbuka juga dipersilahkan.

“Tidak hanya untuk warga sekitar, bagi musafir silahkan singgah untuk berbuka,” tutupnya seraya menambah, di Masjid Al-Mabrur juga tersedia aneka kue dan minuman pemberian warga setempat.[]

Penulis: Rino Abonita