K.H. Muhammad Arifin Ilham, yang tak lain adalah menantu Abuya Djamaluddin Waly mengatakan, meninggalnya seorang ulama adalah musibah yang tak tergantikan. Penjelasan tersebut berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Thabrani.
K.H. Muhammad Arifin Ilham menuliskan beberapa hadis terkait dengan kepergian ulama besar Aceh ini di halaman Facebooknya. Berikut tulisan lengkapnya yang disalin secara utuh oleh portalsatu.com:
Assalaamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuhu
Innaa lillah wa innaa ilaihi roojiuun. Telah menghadap Allah malam ini, ulama kharismatik Aceh Besar mertua abang, Abuya Tgk. Djamaluddin Waly, 71 tahun, di Pesantren Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan.
InsyaAllah wafat husnul khotimah. Wafat saat dikelilingi keluarga dan para santri senior diiringi dilepas menghadap Allah denga lantunan ayat-ayat suci Alqur'an, sedang Abuya terus berzikir tanpa putus sampai menghadap Allah.
Rasulullah bersabda, Maut al-Alim mushibatun la tujbaru watsulmatun la tusaddu, wa huwa najmun thamsun. Wa mautu qabilatin aisaru li min mauti alim, Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama (HR al-Thabrani).
Rasulullah bersabda, Khudzu al-ilma qabla an yadzhaba! Qalu: Ya Rasulallah, wa kaifa yadzhabu? Qala: Inna dzahaba al-ilmi dzahabu hamalatihi, Pelajarilah ilmu sebelum ilmu pergi! Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin ilmu bisa pergi? Rasulullah menjawab: Perginya ilmu adalah dengan perginya (wafatnya) orang-orang yang membawa ilmu (ulama) (HR al-Thabrani).
Imam al-Ghazali berkata, Idza mata al-Alimu tsaluma fi al-Islam tsulmatun la yasudduha illa khalafun minhu, “Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya (Ihya Ulumiddin).
ALLAHUMMA ya Allah rahmatilah, ampunilah, maafkanlah Abuya kami, guru kami yang mulia yang berjuang dalam Syariat dan Sunnah Nabi Muhammad. Terimalah semua amal ibadah mulia guru kami, jadikanlah kuburan guru kami sebagai Taman SyurgaMu, sewafatnya guru kami, hadirkan ulama pejuangMu, pewaris para nabiMu melanjutkan perjuangan guru kami yang mulia sebagai “waratsatul anbiyai” pewaris para nabi, yang berjuang dengan keteladanan, sabar, kasih sayang, dan doa-doa di pengujung malamnya selalu kita sebagai umatnya, murid-muridnya yang selalu diikutsertakan dalam munajatnya. …aamiin.[] sumber : facebook



