SUBULUSSALAM – Wali Kota Subulussalam, H. Affan Alfian Bintang, S.E., mengatakan pembangunan kota ini tidak dapat berjalan dengan baik, jika hanya fokus terhadap pembangunan fisik. Namun harus balance (seimbang) dengan pembangunan mental spritual melahirkan akhlak yang baik dan mulia dalam berbagai dimensi  kehidupan.

Untuk mencapai hal itu, tentu perlu gagasan-gagasan yang sifatnya membangun. Menurutnya, dengan memperbanyak zikir kepada Allah, sebagaimana gagasan Murabbi MPTT-I Asia Tenggara, Abuya Syekh Haji Amran Wali Al-Khalidy yaitu Zikir Rateep Siribee dapat memberi solusi membangun negeri dan memajukannya.

Oleh karena itu, Wali Kota Affan Alfian Bintang dalam pertemuan dengan Pengurus MPTT-I Kota Subulussalam, Ustaz Zulfarsi supaya menyusun program Zikir Ratep Siribee keliling dan pengajian-pengajian tauhid tasawuf, untuk dimasukkan di tahun 2020 agar gemuruh zikir dapat masuk ke desa- desa berjumlah 82 kampong dalam 5 kecamatan di kota Ini.

Pemaparan itu disampaikan Wali Kota Affan Alfian Bintang dalam kegiatan Zikir Rateb Seribee dan Kajian Ilmu Tasawuf dihadiri Murabbi MPTT-I Asia Tenggara, Abuya Syekh Haji Amran Wali Al-Khalidy di Pendopo Wali Kota Subulussalam, Selasa, 17 September 2019, malam.

Dalam pembangunan aspek keagamaan, Bintang berharap kota ini dapat mengembalikan marwah Syekh Hamzah Fanshury sebagai kota yang bertauhid tasawuf agar dapat berkasih sayang dengan Allah dan semua makhluknya.

Di samping itu, pemerintahan H. Affan Alfian Bintang dan Drs. Salmaza, MAP., juga ingin menjalankan salah satu visi misi yaitu mengukuhkan akidah ahlussunnah wal jamaah, zikir, suluk, thariqat dan pengajian-pengajian baik di pondok pesantren maupun di masjid-masjid dan balai-balai pengajian.

“Kita tentu bercita-cita ingin mengembalikan kota Ini menjadi kota santri yang bertauhid tasawuf sebagai tanda kesyukuran kita mensyukuri lahirnya nama Subulussalam yang telah kita peringati setiap tahun dengan filosofis sebuah negeri yang damai sejahtera lahir dan batin,” ungkap Bintang.

Di akhir pidatonya, Bintang menutup penyampaian ini dengan hikmah yang sering Abuya ajarkan dalam pengajian. Berikut bunyinya:

“Tidak ada lawan, yang ada hanya kawan, tahan disakiti dan tidak menyakiti, selalu memberi yang baik-baik serta selalu memaafkan orang lain sebelum mereka meminta maaf walau baru saja disakiti”.[]