LHOKSEUMAWE – Warga Gampong Babah Krueng, Kecamatan Sawang, Aceh Utara, menggali sebuah sumur tua di kebun kosong, Rabu, 28 Februari 2018, sekitar pukul 09.00 WIB. Di dalam sumur tua itu ditemukan sejumlah tulang manusia yang diduga korban konflik masa Darurat Militer di Aceh.
Lokasi sumur itu berjarak sekitar 200 meter dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) atau Water Treatment Plant (WTP) milik PDAM Tirta Mon Pase. Tepatnya di kawasan perbukitan Cot Mane Linggoeng, atau 2,5 kilometer dari arah timur Simpang Gampong Babah Krueng.
Pantauan portalsatu.com/, sejumlah personel Polres Lhokseumawe, Polsek Sawang dan anggota TNI dari Koramil setempat ikut menyaksikan penggalian yang dilakukan tiga warga di kebun milik Mukhtaruddin, 32 tahun, warga asal Paya Rabo, Kecamatan Sawang.
Penggalian dilakukan sampai pukul 12.00 WIB, ditemukan beberapa tulang bagian kaki, paha dan tangan. Selain itu, ditemukan satu baju, celana panjang warna krem, celana pendek kotak-kotak merah biru pudar, celana dalam krem dan kaos abu-abu motif garis-garis berkerah hitam. Ada juga dompet kulit hitam, berisi dua keping uang logam Rp500, selembar uang kertas Rp1000 yang sudah rusak.
Sejumlah warga mengaku datang ke lokasi untuk melihat proses penggalian itu dengan harapan menemukan anggota keluarga mereka yang hilang saat konflik. Usai penggalian, tidak satu pun dari warga bisa memastikan bahwa tulang-tulang tidak lengkap itu adalah anggota keluarga mereka.
Temuan itu akhirnya diamankan oleh polisi ke Polres Lhokseumawe. Sedangkan sumur tua itu dipasang garis polisi. “Temuan ini kita bawa ke polres untuk diamankan, karena tidak ada warga korban konflik yang bisa memastikan bahwa tulang itu anggota keluarga mereka yang hilang,” kata seorang anggota polisi yang tidak ingin disebutkan namanya.
Asnawi, 40 tahun, warga setempat yang ikut menggali sumur tua itu mengaku, tulang manusia itu ditemukan terbungkus dalam pakaian. penggalian dilakukan setelah sehari sebelumnya pemilik kebun Mukhtaruddin mengaku melihat ada celana dalam sumur itu saat membersihkan kebun.
“Mukhtaruddin takut dan melapor ke warga. Setelah dimusyawarahkan kita sepakat menggali sumur hari ini dan benar ada tulang belulang di dalamnya, ada baju, celana, dompet dan celana dalam. Kami berharap menemukan tengkorak atau kerangka keluarga kami yang hilang saat darurat militer, karena dekat sumur itu dulu ada pos aparat, tapi yang kami dapatkan hanya itu,” ujar Asnawi.
Asnawi bersama rekan-rekannya sudah berusaha menggali secara melebar, tapi tidak ditemukan tulang dari bagian tubuh lainnya. Akhirnya untuk sementara penggalian dihentikan, dan rencananya akan dilakukan penggalian lanjutan dalam waktu yang tidak bisa dipastikan. Pasalnya, ia meyakini ada tulang dari bagian tubuh lain di sekitar sumur itu.
Asnawi mengaku belum menemukan tiga saudaranya yang dijemput aparat dari pos BKO tersebut pada tahun 2004, yaitu Ismail, Abdurrahman dan Walidin.
Ia memperkirakan sumur selebar 1 meter dengan kedalaman 1,5 meter itu diperkirakan hanya berjarak 50 meter dari lokasi bekas pos aparat masa Darurat Militer tersebut. Jadi, warga menduga, sumur itu dijadikan tempat menguburkan korban konflik oleh aparat. Karena, menurut warga, sebelumnya kira-kira pada tahun 2008 ada dua kerangka manusia ditemukan di sebuah sumur tua, tidak jauh dari lokasi bekas pos aparat tersebut.
Selain tiga saudara Asnawi, ada empat warga lainnya juga belum diketahui kuburnya. Mereka berasal dari desa tetangga Gampong Babah Krueng, masing-masing Sofyan dari Gampong Blang Manyak, Zulkifli asal Gampong Jurong, Saiful dan Tgk. Husni alias Apa Ni, keduanya warga Paya Rabo Timu.
“Di Sawang ini banyak sekali korban hilang masa konflik Aceh. Daerah Babah Krueng saja sekitar delapan orang, karena ada sumur yang kita duga ada kerangka manusia, maka nanti kita akan minta tolong para pihak membantu alat berat beko agar lebih mudah proses penggalian,” kata Wan Marinir, Panglima/Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA) Sagoe Tgk. Lhok Drien Sawang yang turut menyaksikan ditemukan kerangka manusia tersebut.[]





