SUBULUSSALAM – Kota Subulussalam memiliki banyak sekali potensi wisata seperti air terjun, wisata religi dan objek pemandian. Tak cuman itu, di kota ini juga ada wisata lainnya yaitu Taman Hutan Raya (Tahura) Lae Kombih berada di Kampong Jontor, Kecamatan Penanggalan.
Di kawasan Tahura ini sangat cocok untuk healing anda dapat menikmati keindahan alam yang sejuk dan menyegarkan dengan panorama pepohonan yang menghijau di kawasan itu. Destinasi wisata ini menawarkan banyak spot-spot yang menarik untuk dijelajahi, termasuk pondok-pondok kecil tempat anda beristirahat menikmati secangkir kopi ataupun teh hangat.

Tahura ini sangat bermanfaat untuk menjaga ekosistem alam termasuk ekosistemnya di dalamnya. Tahura ini juga bisa menunjang berbagai kegiatan seperti edukasi, penelitian, sosial dan buaya, serta dijadikan tempat wisata.
Kabid Periwisata Disporapar Kota Subulussalam, Zulkarnain, S.T, Sabtu, 29 Juli 2023 mengatakan Tahura Lae Kombih sendiri merupakan objek ekowisata yang berada di area hutan dan perbukitan, dengan luas sekitar 1.482 hektare. Di dalamnya terdapat berbagai objek menarik yang bisa ditelusuri.

Kawasan ini cocob buat kamu untuk berlibur di kahir pekan yang ingin healing menikmati suasana sejuk dibarengin suara burung dari atas pohon kapur yang masih terdapat di kawasan yang berada di jalan nasional Subulussalam – Medan tepatnya Desa Jontor dan Lae Ikan, Penanggalan.
Pohon Kapur Mendunia
Lebih lanjut ia menjelaskan di dalam hutan tropis ini bahkan banyak ditemukan jenis pohon hutan kayu yang sudah langka yaitu pohon Kapur Singkel (Dryobalanops aromatica gaertn) yang perlu dijaga kelestariannya, dan pada musim-musim tertentu, disini juga akan dijumpai tanaman bunga bangkai yaitu jenis Rafflesia Arnoldi dan berbagai hewan langka seperti burung rangkong.
Jauh sebelumnya, Tahura Lae Kombih memiliki sejarah yang mentereng terkait fauna dan flora yang ada di dalamnya. Dulunya Tahura ini disebut sebagai hutan kapur Kedabuhan Plasma Nutfah.
Kapur Singkel ini merupakan hasil produksi pohon kapur yang pernah mendunia di masanya, yang digunakan sebagai bahan mumifikasi atau pengawet mayat Fir’aun pada masa itu yang disebut dengan kapur barus yang disuplai dari Barus, termasuk dari pohon kapur Singkel Subulussalam.
Tahura Lae Kombih memilki kriteria konservasi, edukasi, dan sustainability dengan berbagai komponen di dalamnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Tahura ini terletak di sebelah kiri jalan atau berjarak tujuh kilometer dari pusat Kota Subulussalam di Simpang Kiri.
Selain itu, masih banyak lagi potensi wisata yang ada di Bumi Sada Kata ini bisa dilihat dari instagram @wisata.kotasubulussalam. (Disporapar).






