BLANGPIDIE – Upah buruh angkut gabah yang baru dipanen para petani di persawahan Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mencapai Rp300 ribu/hari, jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan ongkos memanen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
“Upah yang kami terima dari hasil mengangkut padi yang baru dipanen oleh petani di sawah rata-rata Rp300 ribu/hari,” kata salah seorang pekerja, warga Desa Ie Lhob, Kecamatan Tangan-Tangan, Hasannusi, Jumat, 19 Oktober 2018.
Hasan mengaku setiap hari dirinya bersama teman-temannya mampu mengangkut gabah dengan cara memikul dari sawah menuju jalan produksi rata-rata sebanyak 30 karung/hari dengan jumlah upah diberikan Rp10 ribu/karung isi 50 kg.
“Tergantung jaraknya juga, kalau 200 meter ke bawah ongkosnya Rp5 ribu/karung. Kalau jauh lagi upahnya Rp10 ribu/karung. Jadi, wajar diberi upah mahal, selain jauh, gabah juga berat, karena baru siap dipanen dengan mesin combine,” ujar Hasan.
Hasan mengaku tidak peduli jarak dan beratnya gabah yang dipikul dengan cara mengandalkan tenaga tersebut. Sebab, upah diperoleh dalam pekerjaan itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ongkos memanen kelapa sawit di perkebunan.
“Kalau upah panen kelapa sawit rata-rata Rp150/kg. Jadi, setiap pekerja dalam satu hari mampu memanen sekaligus mengangkut TBS ke jalan produksi 1 ton/orang. Bila kita kalikan, maka ongkos yang diperoleh rata-rata Rp150/hari/orang,” katanya.
Ketua Tuha Peut Ie Lhob, M. Yusuf, mengatakan, sejak beberapa hari terakhir banyak warga daerah lain datang ke desanya khusus untuk bekerja mengangkut gabah petani yang baru dipanen di persawahan.
“Musim panen raya padi kali ini bertepatan pada musim penghujan. Jadi, gabah yang baru dipanenkan dengan combine langsung disuruh angkut ke badan jalan. Petani tidak peduli upahnya mahal, yang penting bagi mereka hasil panen tidak terendam air di sawah,” kata Yusuf.[](Suprian)



