EMANSIPASI perempuan sudah berlaku di Aceh sejak abad ke-16. Perempuan tidak hanya dilibatkan dalam kabinet pemerintahan, tapi juga dalam kancah perang. Korp tentara perempuan Kerajaan Aceh dikenal dengan sebutan Si Pai Inong.

Sejarah si pai inong ini saya baca dari tulisan Teuku H Ainal Mardiah Ali. Dalam tulisan berjudul Pergerakan Wanita di Aceh Masa Lampau Sampai Masa Kini, ia mengugkapkan peran perempuan dalam kerajaan Aceh sudah dimulai jauh sebelum masa emas Kerajaan Aceh di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda.

Hal ini didasari pada sejarah pembebasan Iskandar Muda dari tahanan. Ia ditahan oleh Sultan Alaiddin Riayat Syah V. Sultan yang berseberangan dengan Iskandar Muda yang disebutnya sebagai sultan bodoh dan bejat.

Pembebasan Iskandar Muda dari penjara dilakukan oleh dua perempuan perwira dalam korp Si Pai Inong, mereka adalah Laksamana Meurah Ganti dan Laksamana Muda Tjut Meurah Inseuen.

Menurut Ainal Mardiah, untuk membalas jasa para perwira perempuan tersebut, ketika Iskandar Muda naik tahta menjadi Raja Aceh pada 1607 Masehi, ia memperluas dan memperbesar korp tentara perempuan.

Salah satunya adalah membentuk Divisi Keumala Cahaya, sebagai korp tentara perempuan pilihan yang ditugaskan untuk mengawal istana, mereka disebut sebagai suke kawai istana. Divisi ini juga mengurus dan menerima kedatangan tamu kerajaan, sebelum menghadap sultan.

Tentara perempuan dalam suke kawai istana sebelumnya sudah ada pada masa Kerajaan Aceh dipimpin oleh Sultan Muda Ali Riayat Syah V, yang memerintah hanya selama tiga tahun, yakni dari tahun 1604 hingga 1607 masehi. Ia digantikan oleh Sultan Iskandar Muda yang kemudian memperkuat keberadaan resimen tentara perempuan tersebut.

Sebelumnya di Kerajaan Aceh juga suda dibentuk armada Inong Balee, korp tentara yang berisi para perempuan janda, yang suaminya tewas dalam peperangan. Armada inong balee ini dibentuk pada masa Sultan Alauddin Riayatsyah IV. Sultan Aceh yang memegang tampuk kekuasaan dari tahun 1589 hingga tahun 1604 masehi. Armada inong balee ini dipimpin oleh Laksamana Keumalahayati.

Kiprah armada inong balee ini dikenal hingga ke Eropa, setelah Laksamana Keumalahayati menggagalkan provokasi Belanda si Selat Malaka pada tahun 1599 masehi. Malah Keumalahayati membunuh Cornelis de Houtman di atas kapalnya sendiri, sementara saudara kandungnya, Frederich de Houtman dipenjara di Aceh.

Sejarawan Belanda Marie van Zuchtelen dalam buku Vrouwelijke Admiral Malahayati, menggambarkan Malahayati sebagai laksamana pemberani, cerdik dan bijaksana, yang memimpin lebih 2.000 parajurit perempuan.

Pada 16 Juni 1606, Malahayati juga yang ditunjuk Sultan Alauddin Riayat Syah IV untuk menerima kunjungan diplomat Inggris, Sir James Lancester yang membawa surat dari Ratu Inggris untuk raja Aceh.

Perempuan Aceh juga terlibat aktif dalam parlemen kerajaan, dalam lembaga legislatif yang dinamai Balai Majelis Mahkamah Rakyat. Sebelum demokrasi barat memperkenalkan keterlibatan perempuan dengan jumlah kuota tertentu dalam parlemen, Kerajaan Aceh jauh-jauh hari sudah mempraktekkannya. Dari 73 anggota dewan di Balai Majelis Mahkamah Rakyat, 16 diantaranya merupakan perempuan.

Kerajaan Aceh juga lebih setengah abad (58 tahun) pernah dipimpin oleh empat perempuan (ratu/sultanah). Mulai dari Sultanah Tajul Alam Safiatuddim Syah (1641-1675), Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1675-1677), Sultanah Zakiatuddin Inayat Syah (1677-1688), Sultanah Kamalat Zainatuddin Syah (1688-1699).

Pada abad ke-19 ketika Belanda menginvansi Aceh pada 26 Maret 1873, perempuan Aceh juga terlibat aktif dalam peperangan. Dua orang perempuan Aceh yakni Cut Nyak Dhien dan Cut Meutia diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia.

Namun selain dua perempuan perkasa itu, sejarah Aceh juga mencatat heroisme perempaun Aceh lainnya seperti Pocut Baren, Pocut Meurah Intan, serta ribuan perempuan Aceh lainnya yang rela meninggalkan kenyamanan rumah menuju kepedihan medan perang. Tentang kiprah perempuan Aceh itu juga bisa dibaca dalam buku Prominet Women In The Glimpse History.[]Sumber:steemit

Penulis: Iskandar Norman