SUBULUSSALAM – Sebuah kisah menginspirasi datang dari seorang pemuda asal Pak-pak Bharat, Sumatera Utara (Sumut), Yusuf (16) kini berdomisili di Kampong Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam.
Ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya ketika memantapkan hatinya memutuskan menjadi seorang mualaf. Kisah Yusuf menjadi mualaf, berawal setelah ayahnya, Gusar Boang Manalu meninggal dunia.
Setelah ditinggal sang ayah, Yusuf bersama tiga saudaranya tinggal bersama ibunya, Rauli Sinamo. Yusuf sempat dititipkan di Panti Asuhan Medan, Sumatera Utara. Ia sempat menempuh pendidikan SD hingga SMP namun akhirnya kandas di tengah jalan karena keterbatasan biaya.
Perjalanan hidup Yusuf menjadi mualaf, berawal ketika ibunya Rauli Sinamo bertemu dengan pria muslim, Termi Berutu. Rauli Sinamo akhirnya memilih menjadi mualaf dan melangsungkan pernikahan dengan Termi Berutu.
Lewat Termi Berutu, Yusuf mengenal Islam hingga akhirnya ia bersama tiga saudaranya memilih menjadi mualaf. Menjadi mualaf bukan perkara mudah bagi Yusuf, apalagi keluarga dari almarhum ayahnya, Gusar Boang Manalu semua dari keluarga Kristen.
Kini, Yusuf bersama ibunya dan Termi Berutu tinggal di Suka Makmur, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam. Yusuf sendiri aktif mengikuti pengajian di bawah binaan Yayasan Mualaf Center (YMC) Kota Subulussalam pimpinan Juliamin Banurea.

Berkat ketekunannya belajar Islam, kini Yusuf dipercayakan menjadi tenaga pengajar bagi anak-anak di Yayasan Mualaf Center Desa Suka Makmur. Sejak menjadi mualaf, Yusuf mengaku menemukan ketenangan batin dari sebelumnya.
"Saya senang belajar Islam, sudah bisa sikit-sikit. Di sini (Mualaf Center) kadang bantu mengajar anak-anak usia SD," kata Yusuf kepada portalsatu.com/ di Mualaf Center Kota Subulussalam, Sabtu, 30 Januari 2021.
Yusuf mengaku baru satu tahun di Kota Subulussalam, berdomisili di Suka Makmur salah satu mualaf binaan Mualaf Center. Sejak mualaf, Yusuf mengaku sudah beberapa kali mengunjungi keluarga dari almarhum ayahnya di Pak-pak Bharat.
Ia bersyukur meski sudah beda agama dengan keluarga di Pak-pak Bharat, namun ia masih diterima dengan baik dalam keluarga di sana, sehingga tali silaturahmi tetap terjaga dengan baik.
“Mereka sangat menghargai dan menghormati pilihan saya dan ibu ketika memutuskan menjadi mualaf,” ungkap Yusuf.
Menurut Yusuf, ketika menghadiri undangan pesta keluarga di Pak-pak Bharat, ia diperlukan sangat baik oleh keluarga di sana, mereka menyiapkan salah satu ruangan khusus untuk salat yang telah dibersihkan terlebih dahulu.
“Mereka siapkan tempat salat, lantai itu dibersihkan dulu pakai air, mereka siap air untuk wuduk, sajadah juga disiapkan,” ungkap Yusuf didampingi Ketua Yayasan Mualaf Center, Juliamin Banurea dan Parulian Sinurat, Bendahara YMC.
Tidak hanya itu, makanan juga dipisahkan buat Yusuf, keluarga menyiapkan ayam sampai Yusuf datang baru ayam itu dipotong langsung oleh Yusuf sendiri.
“Mereka biasa siapkan ayam satu ekor, itu nunggu saya dulu datang baru dipotong. Kalau saya belum datang, ayam itu tidak dipotong, mereka minta saya sendiri yang potong,” kata Yusuf mengenang kebaikan keluarganya di sana meski sudah beda agama sejak ia menjadi mualaf.
Kini, pemuda lajang ini aktif mengikuti pengajian bersama Ustaz Juliamin Banurea di Mualaf Center Kota Subulussalam. Di Kompleks YMC, Yusuf bersama puluhan mualaf lainnya juga ikut program pembibitan ikan nila untuk menambah pendapatan ekonomi keluarga.[]
Baca Juga: Mualaf I Miranda Mahardika, Sempat Ayahnya Tidak Bicara 1 Tahun



