Selasa, Juli 23, 2024

Dinkes Gayo Lues Keluhkan...

BLANGKEJEREN - Dinas Kesehatan Kabupaten Gayo Lues mengeluhkan proses pencairan keuangan tahun 2024...

H. Jata Ungkap Jadi...

BLANGKEJEREN – H. Jata mengaku dirinya ditunjuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) menjadi Pj....

Bandar Publishing Luncurkan Buku...

BANDA ACEH - Penerbit Bandar Publishing Banda Aceh meluncurkan sekaligus dua karya Dr....

Rombongan Thailand Selatan Kunjungi...

BANDA ACEH – Delegasi dari berbagai lembaga di Thailand Selatan mengunjungi Kantor Partai...
BerandaNewsPendidikanZulfikar Dosen Umuslim...

Zulfikar Dosen Umuslim Bireuen Raih Doktor Lingkungan, Ini Rekomendasinya Soal Pemeliharaan Sapi

BIREUEN – Dosen Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, drh. Zulfikar, M.Si., meraih gelar Doktor di bidang Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PSL) dari Universitas Sumatera Utara (USU), setelah menyelesaikan ujian promosinya di hadapan sejumlah penguji pada Rabu, 25 Agustus 2021. Dia berhasil mempertahankan disertasinya berjudul “Pengendalian Nematoda Gastrointestinal (NGI) pada Sapi Berbasis Pengelolaan Lingkungan di Provinsi Aceh”.

Ujian Promosi Doktor tersebut dipimpin Rektor USU, Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si. Panitia Ujian Promosi diketuai Prof. Dr. Ir. Sayed Umar, M.S., yang merupakan Guru Besar Bidang Reproduksi Ternak Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian USU dengan anggota drh. T. Reza Ferasyi, M.Sc., P.hD., dan Dr. Ir. Maruf Tafsin, M.Si. Sementara panelis penguji terdiri dari Prof. Dr. Dwi Suryanto, M.Sc., Guru Besar Bidang Mikrobiologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam USU, Dr. Delvian, M.P., dari Program Studi PSL USU, dan Dr. drh. Muhammad Hambal dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala.

Zulfikar yang merupakan dosen di Fakultas Pertanian Umuslim meneliti tentang proses pengendalian parasit cacing nematoda gastrointestinal (cacing yang berada dalam saluran pencernaan) pada sapi dengan basis pengelolaan lingkungan. Dia melakukan riset di wilayah dataran rendah dan dataran tinggi di Provinsi Aceh. Penelitian itu bertujuan mendapatkan gambaran dalam membuat pemodelan sehingga bisa disusun strategi pengendalian yang tepat terhadap kontaminasi parasit cacing nematoda gastrointestinal pada sapi.

“Dari analisis faktor manajemen pemeliharaan wilayah dataran rendah, terlihat manajemen produksi dan kesehatan berpengaruh dan berisiko terhadap meningkatnya parasit cacing nematoda gastrointestinal. Sementara di wilayah dataran tinggi, terlihat pengelolaan lingkungan dan nilai ekonomi yang berpengaruh dan berisiko,” ujar Zulfikar dalam ujian promosinya.

Menurut Zulfikar, berdasarkan gambaran risiko dari faktor lingkungan dan manajemen pemeliharaan, perlu dibuat satu pemodelan berdasarkan perubahan lingkungan untuk melihat dan menentukan peluang terhadap perkiraan perjalanan parasit nematoda gastrointestinal di dalam dan luar tubuh sapi.

Menjawab wartawan soal pandangannya yang dapat memberikan kontribusi positif untuk kepentingan masyarakat dan daerah, Dr. drh. Zulfikar, M.Si., memberikan rekomendasi bahwa dalam pemeliharaan ternak sapi pada masa akan datang perlu dibuat suatu rancangan strategi yang representatif, seperti melakukan studi kelayakan dan membuat perencanaan sebelum peternakan sapi dikembangkan pada suatu wilayah. “Sehingga ternak sapi dapat terhindar dari kontaminasi penyakit, termasuk penyakit yang disebabkan parasit cacing nematoda gastrointestinal,” ujar Zulfikar.

Oleh karena itu, Zulfikar mengharapkan dukungan dari berbagai pihak pemangku kepentingan (pemerintah, pengusaha, dan peternak). “Hal ini dapat menjadi pedoman untuk menentukan langkah-langkah dalam pelaksanaan dari manajemen pemeliharaan peternakan yang berkelanjutan khusus untuk pengendalian parasit cacing nematoda gastrointestinal pada lingkungan peternakan sapi di Provinsi Aceh,” ujar Zulfikar yang juga Sekretaris Direktur Pacasarjana Umuslim, Kamis, 26 Agustus 2021.

Sementara itu, Ketua LSM FloFa Aceh, Darwis Kuta, mengucapkan selamat kepada Zulfikar yang berhasil meraih gelar Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. “Kita berharap Bapak Dr. drh. Zulfikar, M.Si., dapat terus berkontribusi dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Aceh,” tutur Darwis.

Darwis menilai pengetahuan, pemikiran, dan keahlian Zulfikar di bidang Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan sangat penting diaplikasikan secara maksimal untuk memberikan manfaat kepada masyarakat dan daerah Aceh tercinta ini. Misalnya, Zulfikar dapat memberikan rekomendasi terkait pemeliharaan ternak sapi yang lebih baik pada masa akan datang. “Semoga sektor peternakan di Aceh bisa lebih berkembang, karena kebutuhan daging di daerah kita sangat tinggi,” ujar Darwis yang merupakan putra Meurah Mulia, Aceh Utara.

Zulfikar lahir di Matangglumpangdua, 26 Desember 1968. Putra dari H. Abdullah Hasan (almarhum) dan Hj. Cut Latifah (almarhumah) ini menetap di Desa Keude Matangglumpangdua, Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen.

Dia memerupakan Sarjana Kedokteran Hewan (SKH) lulusan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (Unsyiah, sekarang USK) tahun 1994, dan menamatkan pendidikan profesi Dokter Hewan (drh) pada FKH USK, 1996. Zulfikar kemudian melanjutkan pendidikan Magister Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Pascasarjana USK, lulus tahun 2013. Dosen tetap Umuslim ini baru saja meraih gelar Doktor Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan dari USU.

Zulfikar menjadi staf Wakil Rektor III Umuslim 2008-2012, Sekretaris Badan Pelaksana Kuliah Kerja Mahasiswa (Bapel KKM) Umuslim 2013-2015, Wakil Dekan II (Bidang Administrasi dan Keuangan) Fakultas Pertanian/FP Umuslim 2016-2017, Wakil Dekan I (Bidang Akademik) FP Umuslim 2017-2021, dan Sekretaris Direktur Pacasarjana Umuslim 2021 sampai sekarang.[](*)

 

Baca juga: